Sabtu, 21 Mei 2011

Ummul Fikroh Fair 2011

Pagi itu langit masih terlihat hitam, dan bintang-bintang masih setia menghiasinya. Selepas membuka mata, aku teringat bahwa hari ini adalah pembukaan Ummul Fikroh Fair 2011. Kemudian ku bergegas keluar dari kamar untuk menunaikan shalat subuh berjaa'ah di masjid yang tidak jauh dari rumahku. Udara pagi yang terhempas di tubuh ini begitu dingin dan sejuk seakan-akan ku berada di kutub utara. Sementara aku yang tengah mengambil air wudhu terus berperang melawan dinginnya air yang kerap membuat ku menggigil. Suasana terasa hening dan syahdu membuat hatiku menjadi tentram nan damai.

Tak ku dengar suara apapun, hanya alunan tarhim yang menggema di setiap masjid dan ada juga yang sudah mengumandangkan adzan. Selepas menunaikan shalat subuh lalu kusempurnakan dengan membaca beberapa ayat-ayat cinta Allah SWT hingga jarum jam di masjid itu menunjukkan pukul 05.30 WIB dan akhirnya ku beranjak untuk pulang ke rumah. Langit sudah semakin memutih, bintang-bintang dan bulanpun terlihat begitu pucat di angkasa sana. Ini bertanda siang akan segera datang. Lalu ku lanjutkan azamku untuk berangkat ke kampus untuk melaksanakan suksesi pembukaan UFF 2011 tersebut, karena pada hari sebelumnya aku taklimatkan ke semua panitia untuk berkumpul di Aula Madya IAIN "SMH" Banten pukul 07.00 WIB, sementara acara pembukaannya akan dilaksanakan pukul 08.00 WIB.

Blade merahku mulai ku panaskan dan perlahan-lahan ku dorong keluar rumah, sementara orang-orang sudah mulai ramai di jalan-jalan kampung yang rindang itu untuk menghabiskan waktu bersama dinginnya pagi. Ada diantara mereka yang berlari pagi, ada yang main bulu tangkis, ada juga yang sibuk membereskan atau bersih-bersih halaman depan rumahnya. Termasuk bapakku, yang biasanya setelah menyaksikan ceramah dan berita pagi di Televisi, beliau pasti ke depan halaman rumah untuk menyirami bunga-bunga yang masih menguncup, dan terkadang juga aku atau kakakku. Seiring waktu yang terus berputar dan sinar mentari yang sudah mulai merona di langit luas sebelah timur, namun berlum terlihat jelas karena terhalang oleh pohon-pohon yang rimbun. Ibuku yang baru saja keluar dari dapur menemuiku di mana aku memanaskan motorku.

"Mau pergi kemana Nid pagi-pagi bener?" Tanya ibukku dengan nada rendah
"Kebetulan hari ini ada kegiatan bu di kampus." Jawabku sambil tersenyum manis
"Kalo mau sarapan masih ada nasi tuh, tapi lauknya belum dimasak sisa tadi malam!" Imbuhnya
"Nanti ja lah gampang, masih terlalu pagi kalo sarapan sekarang." Sedikit menyangkal
"Ya dah bu, saya mau berangkat ke kampus sekarang" Pamitku sambil mencium tangannya
Bapakku yang berada di depan kuhampiri untuk memohon pamit dan doanya. Jarum jam di rumahku sudah menunjukkan pukul 06.15, aku tidak mau datang kemudian helm dan tas rangselku mulai ku pakai dan bergegas untuk berangkat.

                                                                            ***

Dalam sepanjang perjalanan itu, HP-ku berbunyi berulang kali, sepertinya banyak panggilan atau sms yang masuk. Namun aku tak memperdulikannya karena sebentar lagi aku sampai di kampus. Jam di tangan kiriku sudah menunjukkan pukul 06.50, berarti tinggal sepuluh menit lagi aku harus sampai di sana. “Pokoknya jangan sampai aku datang terlambat atau lewat dari yang ditentukan, karena pemimpin harus jadi teladan bukan telatan. He..he..” Gumamku dalam hati. Gas terus ku tancap hingga meyelip rentetan mobil dan motor di sebelah kiriku.

Sinar mentari di pagi itu kian merona berwarna kuning keemasan dan terus menjelajah hingga perkotaan. Dari kejauhan nampak beberapa ikhwan yang sudah stand by di dalam aula sejak beberapa menit sebelum kedatanganku. Dan beberapa akhwat juga sibuk membungkus konsumsi di sekretariat LDK untuk tamu undangan. Dan alhamdulillah, aku juga tidak terlambat sampai di sana dan langsung bergabung menyiapkan hal-hal yang belum selesai, seperti infocus yang belum terpasang saat itu.



Oia, aku baru sadar ada beberapa panggilan dan sms yang masuk di HP-ku. Kemudian langsung saja ku lihat, ternyata ada 3 panggilan tak terjawab dari chozinuddin selaku ketua panitia dan 1 sms yang masuk darinya. “Akh kursi sofa gimana? Mau d ambil jam brp?”. Isi sms tadiSms itu tidak perlu ku jawab, karena aku sudah bertemu langsung dengannya di depan aula.“Afwan akhi, tadi ana masih di jalan, jadi ga sempet terima telfon apalagi buka sms” Kataku sedikit menjelaskan“Ayo kita ambil kursinya sekarang di ruang Purek 3”. Ajakku kepada semua temen-temen ikhwan yang ada di sana.Tapi sepertinya para dosen dan seluruh karyawan sedang ada apel pagi di depan, dan purek 3 pun ada di dalamnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 07.30 WIB, sementara kursi belum di bawa ke aula. Satu sama lain di antara kami saling menatap, lalu ada yang merunduk dan ada juga yang membuang pandangan ke luar sebelah kiri gedung rektorat. Tak satupun kata yang terucap dari bibir ini, dan tampaknya wajah mereka sedikit murung dengan keadaan yang demikian. Tapi aku harus mampu membawa keadaan yang tidak membuat mereka hilang semangat. Sebagian panitia yang lain juga sudah datang dan berkumpul di aula. Aku berfikir sejenak, daripada kita berdiri di depan pintu rektorat ini yang sepi dan hampa, mending kita kembali ke aula hingga apel pagi usai di laksanakan.


“Akhi, kita ke aula lagi deh, nanti kita ke sini lagi setelah apel para dosen selesai”. Kataku dengan nada sedikit keras dan memecah keheningan“Ya dah akh, kita ke aula dulu”. Jawab andri dengan mengangguk-anggukan kepala “Ya.. Ayo.. ayo..”. Semuanya mengamini ajakanku


                                                                     ***

Aku tidak ingin menunjukkan rasa kecewa ini kepada teman-teman yang lain, sehingga aku harus tetap tegar menghadapinya. Aula yang ramai dengan hiasan-hiasan di dinding, dekorasi panggung yang mungil dan menawan, serta baliho besar yang terpampang di depan dengan desain yang indah dan menarik, cukuplah untuk menghibur hatiku yang sedang gontai. Ku lihat panitia akhwat yang tengah membawa konsumsi di sebelah kananku, dan ada juga yang meluruskan kursi yang masih belum beraturan di dalam aula, mereka tampak begitu kompak dengan seragam batik dan kerudung yang mereka kenakan. Sedangkan ikhwan bermacam-macam dengan berbagai motif yang mereka senangi. Tapi yang terpenting adalah kerjasamanya, bukan seragamnya. Ya kan!

Suasana kampus sudah semakin ramai, karena pada waktu yang sama FORMASI juga ada acara pembukaan Pekan Olahraga Mahasiswa (POM XIII) tepat di depan aula, yakni di lapangan syari’ah. Tapi tidaklah mengapa, itung-itung untuk memeriahkan acara kita juga. Kan namanya juga “Ummul Fikroh Fair”, jadi harus ramai dan meriah. Para peserta MSQ pun sudah berbondong-bondong datang dan siap mengikuti perlombaan. Tapi sepertinya acara belum bisa dimulai. Sementara sebagian panitia juga terlihat setengah bingung dan bimbang melihat belum ada kepastian untuk dimulainya acara.

“Akh nid, apel pagi dah selesai tuh, ayo kita ke rektorat lagi”. Ujar Syarif dengan antusias“Ok.. Ayo kita langsung saja ke sana! Ajak temen-temen juga tuh di depan”. Kataku sambil mendahuluiWaktu sudah menunjukkan pukul 08.00 WIB, harusnya acara sudah di mulai. Para pesera MSQ sudah berjejer mengisi kursi yang panitia siapkan. Tapi tamu undangan dari Kemenag dan walikota tak kunjung datang. Sementara pak rektor dan purek 3 masih berada di depan rektorat dimana mereka tengah berbincang-bincang usai apel pagi. Dan kami masih setia menunggu mereka di depan ruangannya.“Jika pak rektor datang, kita harus ingatkan lagi bahwa beliau akan memberikan sambutan di LDK”. Ungkapku kepada ketua SC“Ya antum ja yah yang mengingatkan, saya memastikan ke purek 3 untuk pinjem kursi” Jawab ketua SC mengelak“Oh ya dah..” Aku mengalah. 

Suasana semakin tegang di dalam ruang tunggu itu, tepatnya di depan ruang pak rektor. Udara pagi yang dingin kini beruba menjadi panas. Ketua panitia POM XIII dari FORMASI pun ikut menunggu kehadiran pak rektor untuk memberikan sambutan di acaranya. Tak banyak hal yang aku perbuat, hanya berdoa kepada Allah SWT agar dipermudah segalanya.Hatiku semakin tidak tenang, ingin cepat memulai dan mensukseskan agenda UFF ini. Aku teringat perjuangan dan pengorbanan teman-teman panitia, yang sudah berjibako mendesain dan menyusun agenda kegiatan yang besar dan spektakuler ini. Persiapan yang kami lakukan sekitar 2 bulan lebih dengan penuh kesabaran dan perjuangan. Tak hanya waktu yang ia korbankan, tapi tenaga, harta bahkan sampai ada yang jatuh sakit karena menahan lelah danletih. Subhanallah.. Semoga Allah senantiasa meridhoi dan membalas dengan yang setimpal. Amin..

“Akh nid, kok ngelamun?? Itu pak rektor sudah datang..”. Ungkap hafid sembari memegang pundakku“ Astagfirullah.. Ya..ya.., afwan akh”. Aku tersentak Pak rektor dan purek 3 berjalan bersama, diikuti oleh sekretaris dan beberapa karyawan lainnya.“Assalamualaikum.. Bapak punten, kami dari LDK meminta Bapak untuk sambutan di acara kami sekarang pak?” Pintaku dengan hembusan nafas yang begitu cepat“Waalaikumsalam.. Purek 3 ja tuh yang sambutan, bapak mau keluar”.  Jawab pak rektor“ Mohon maaf pak sebelumnya, bukannya bapak malam jum’at kemaren sudah siap untuk memberikan sambutan di acara kami”. Imbuhku “Bapak mau ta’ziyah sekarang ke salah satu rumah karyawan yang bapaknya meninggal. FORMASI sekarang lagi ya? Cobasih koordinasi dulu kalo ngadain kegiatan, agar ga bentrok kayak gini”. Ungkapnya sambil masuk ke ruangannya. 

“Cobaan apa lagi yang menimpa kami??? Akankah kami mampu melewatinya” gumamku dalam hati. Para peserta MSQ sudah berdatangan, namun acara pembukaan belum juga siap. Aku tertegun, mendengarkan pernyataan pak rektor tadi. Teman-teman yang lain juga terperangah seakan kehadiran pak rektor sangat sulit diharapkan. Semuanya terdiam seribu bahasa dengan kepala merunduk ke bawah. Dengan berjalan tergesa-gesa, pak Rektor akhirnya memberikan kata harapan kepada kami bahwa nanti ia akan hadir jam 09.00. "Baiklah, saya akan hadir setelah takziyah sekitar jam 09.00 ya!" ungkapnya sambil meninggalkan ruangan.

                                                                                ***
Waktu sudah menunjukkan jam 09.00