Rabu, 15 Februari 2023

MUSEUM ANGKUT

Hal yang unik ketika kita berkunjung di Kota Batu adalah bisa berkeliling di museum angkut Kota Batu, Jawa Timur. Kenapa unik, karena berbagai macam kendaraan dari berbagai dunia ada di dalamnya. 


Senin, 13 Februari 2023

PERJALANAN SPIRITUAL

Sebuah perjalanan hidup pastinya ada momen-momen penting yang berkesan. Bagi saya, perjalanan paling berkesan dan bersejarah yang pernah saya rasakan dalam sepanjang hidup ini, yaitu ketika berada di tanah suci Makkah dan Madinah. Ya, saat menunaikan ibadah umroh.

Dengan izin Allah SWT, pada tahun 2020 saya mendapat reward umroh dari Yayasan Alkautsar Cendekia tempat saya bekerja. Keberangkatan dijadwalkan pada bulan April tahun 2021 bersama rekan kerja yang juga mendapatkan reward yang sama. Namun, pada tahun tersebut pandemi covid-19 belum juga usah sehingga keberangkatan ditunda dikarenakan adanya pembatasan kegiatan masyarakat termasuk penerbangan ke luar negeri.

Seiring berjalannya waktu, di tahun 2022 kasus terinfeksi covid semakin menurun dan menunjukkan pandemi covid-19 berangsur menurun dari bulan ke bulan. Sehingga adanya kebijakan pencabutan PPKM (Program Pembatasan Kegiatan Masyarakat) dan diperbolehkannya penerbangan ke luar negeri termasuk untuk menunaikan ibadah umroh. 

Pihak yayasan Alkautsar Cendekia akhirnya memberikan kabar bahwa insya Allah keberangkatan bagi penerima reward umroh pada bulan Desember 2022. Kabar tersebut disampaikan pada Bulan Oktober 2022. Terdapat dua bulan untuk persiapan bekal ilmu, finansial dan perlengkapan lainnya. 

Rabu, 28 Juni 2017

Ibadah adalah Kebutuhan

Hidup dan kehidupan manusia di dunia ini tidaklah berjalan apa adanya. Melainkan ada tujuan dan jalan yang harus diikuti menuju kehidupan akhirat. Semua yang ada di dunia ini

Selasa, 27 Juni 2017

Lebaran Jadi Idaman

Alhamdulillah, tahun 2017 ini kita dapat bertemu dengan momen bahagia yakni hari Lebaran Idul Fitri 1438 H. Setelah satu bulan dididik dan dibina dengan berpuasa di Bulan Ramadhan untuk menahan rasa lapar, haus dan hawa nafsu yang melenakan. Di hari yang fitri ini adalah wujud kemenangan atas perjuangan yang telah dilakukan. Semoga puasa Ramadhan yang kita tunaikan, bukan hanya sekedar menahan lapar dan haus saja melainkan karena keimanan dan keikhlasan kepada Allah SWT. Sehingga ibadah puasa kita diterima di sisi Allah SWT dan mendapat nilai-nilai ketakwaan sebagaimana tujuan dari ibadah puasa itu sendiri.

Hari lebaran adalah saat-saat yang dinantikan bagi seorang anak yang jauh dari orang tua untuk pulang (mudik) walau sesaat. Juga kebahagiaan bagi orang tua melihat anak-anaknya serta sanak saudaranya berkumpul duduk tersimpuh dihadapannya seraya memohon maaf lahir dan batin serta doa restu agar dimudahkan dalam segala urusannya. Tak hanya sesama saudara tapi sesama manusia memohon agar dibukakan pintu maaf yang seluas-luasnya agar kembali suci dan bersih dari segala dosa. Saat Ramadhan, kita memohon dan meminta ampunan kepada Allah SWT dalam setiap waktu dan kesempatan. Saat Idul fitri disempurnakan dengan mohon maaf sesama manusia. Hablumminallah wa hablumminannaas.

Meskipun Ramadhan telah usai, semoga semangatnya tetap menyala dalam sebelas bulan setelahnya. Jangan biarkan amal ibadah kita banyak di bulan Ramadhan, tapi ketika berganti bulan semakin sedikit bahkan hilang. Mari kita jaga keistiqomahan kita dalam beribadah, karena Allah menyukai orang-orang yang beribadah secara terus menerus walaupun sedikit. Apalagi jika lebih banyak lagi. So, jangan terputus untuk berbuat kebaikan selagi masih diberi kesempatan. Itulah hakikat ketakwaan dengan terus melaksanakan perintah Allah SWT dan senantiasa menjauhi larangan-Nya. Hari lebaran adalah simbol kemenangan dan ramadhan adalah bulan keberkahan yang penuh dengan perjuangan. Sehingga Ramadhan dan Lebaran adalah dua kata yang jadi idaman.

Minggu, 21 Mei 2017

Family is a team

Hari ini, (ahad, 21/5/2017) saya dan istri menghadiri acara Modern Islamic Parenting di Hotel Ratu Serang yang digagas oleh Lembaga Amil Zakar Harfa Banten yang bekerja sama dengan Sekolah Islam Terpadu Widya Cendekia. Dari rangkaian kegiatan yang seru dan unik ini saya mendapatkan inspirasi besar tentang membuat team dalam keluarga. Family is a team, keluarga adalah sebuah tim. Jumlah personil dari Keluarga Gen Halilintar tersebut berjumlah 13 orang. Yang yerdiri dari sebelas anak, ayah dan ibu. Semua pekerjaan rumah tidak memerlukan pembantu, melainkan dikerjakan oleh mereka sendiri. Ada yang bertugas masak, ada yang nyuci baju, ada yang nyampu dan ngepel, ada juga yang menjadi pembantu umum. Semua anak dapat bekerja sama dengan baik untuk mewujudkan cita-cita bersama.

Menariknya, semua pekerjaan rumah yang ditekuni tersebut bisa menjadi usaha dan bisnis yang cukup bagus. Misalnya yang berperan sebagai juru masak memiliki usaha catering, di bidang loundry punya bisnis loundry ada juga yang jago marketing buku, music, film dan lain-lain. Intinya semua potensi yang dimiliki anak dikembangkan di rumah dengan membuat tim. Keluarga Gen Halilintar bukan orang biasa-biasa saja, tapi gaya hidup mereka justru kelas menengah atas. Jalan-jalan ke luar negeri, shopping, traveling, dll. Tapi giliran beresin rumah mereka ga butuh pembantu, mereka kerjakan sendiri. Untuk merawat anak ga butuh baby sitter, mereka rawat sendiri padahal mereka punya banyak uang. Ini menunjukkan bahwa meskipun kita hidup di zaman modern namun jika kita mampu mengarahkan dan memberi teladan kepada anak untuk membangun visi dan misi kesuksesan keluarga.

Minggu, 01 November 2015

SMPIT WIDYA CENDEKIA

Telah hadir di Kota Serang sebuah sekolah baru bercorak Islami pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) yaitu SMP Islam Terpadu Widya Cendekia. Berdirinya sekolah ini membawa visi besar dalam membangun generasi bangsa yang siap menghadapi tantangan zaman yang semakin kompetitif. Adapun visi tersebut adalah "menjadi sekolah Islam yang unggul dan menjadi kebanggaan umat dalam mendidik generasi Islam yang cerdas, berprestasi dan berakhlak mulia sebagai pemimpin di masa depan". 
Itulah visi dari SMPIT Widya Cendekia yang akan menjadi school of leader di Indonesia. Setiap orang tua pasti menginginkan agar anaknya menjadi cerdas yang kreatif, inovatif dan kompeten dalam segala hal, serta dapat menyelesaikan segala permasalahan hidup dengan baik. Tidak ketinggalan, setiap orang tua juga pasti mengharapkan agar anaknya dapat meraih berprestasi yang membanggakan baik bidang akademik maupun ekskul. Dan tidak hanya itu, yangg paling penting lagi adalah berakhlak mulia yang selalu mendoakan orang tuanya, berbakti dan patuh terhadap ajaran agamanya.
Sekolah ini menjadi solusi tepat dalam mengambangkan kreatifitas peserta didik dan kemampuan akademik tinggi dalam menyongsong masa depan yang gemilang. Beberapa program unggulan sekolah ini adalah Tahfidz, English dan Robotik. Untuk menunjang program English, setiap peserta didik mengikuti program english day yang dilaksanakan pada setiap hari rabu dan jum'at secara terus menerus di sekolah. Untuk mengasah kemampuan berbicara bahasa Inggris. Setelah menyelesaikan program sekolah di SMPIT Widya Cendekia ini, diharapkan siswa mampu menyelesaikan 2 juz hafalan al-Qur'an, terhitung dari juz 30, 29 dan surat-surat pilihan. Serta mampu menguasai sains khususnya robotic yang menjadi identitas dari kecanggihan dunia teknologi dewasa ini. 

Selamat bergabung dengan SMPIT Widya Cendekia!

Jumat, 15 November 2013

Politik Pendidikan dan Hukum Indonesia

Ceritanya pada hari ini, 15 November 2013 berlangsung kegiatan Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh pascasarjana IAIN “Sultan Maulana Hasanuddin” Banten dengan mendatangkan Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA., selaku direktur pascasarjana UIN “Syarif Hidayatullah” Jakarta, dan Prof. Dr. Khoiruddin Nasution, MA., selaku direktur pascasarjana UIN “Sunan Kalijaga” Jogjakarta. Tema pada seminar kali adalah “Kontribusi Politik Terhadap Hukum dan Pendidikan di Indonesia”. Tema ini cukup menggigit untuk dikaji dan didiskusikan.

Prof. Azra mengatakan bahwa politik sangat krusial menentukan maju mundurnya pendidikan di Indonesia ini. Berbicara masalah politik berarti berbicara tentang kekuasaan, maka orang yang sedang memegang kekuasaan tersebut akan menghijaubirukan kebijakan tentang sistem pendidikan dan perngkat-peragkat di dalamnya. Setiap pergantian mentri, dalam hal ini adalah Mentri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) dan Menteri Agama (Menag) memiliki potensi besar adanya pengaruh terhadap pendidikan  di negeri ini. Sehingga dampak politik pendidikan Indonesia terhadap pendidikan Islam tergantung pada Mendikbud, Menag, Dirjen Dikti, dan Dirjen Pendis.

Para peserta seminar yang berjumlah lebih dari 300 peserta tersebut sangat antusias menyimak penjelasan. Karena materi ini sangat berkaitan dengan nasib pendidikan kita, terutama pendidikan Islam. Prof. Azra melanjutkan materinya bahwa masih adanya perbedaan antara pendidikan Islam dan pendidikan Umum dalam pembiayaan. Contohnya dana operasional guru di sekolah umum relatif besar, sedangkan guru di madrasah sangatlah kecil. Dengan demikian, pendidikan Islam terlihat dimarginalkan padahal sebelum kemerdekaan pendidikan Islam sudah berkembang di Indonesia ini. Seharusnya pendidikan Islam lebih maju dan berkembang dengan fasilitas dan pembiayaan yang seimbang dengan umum. Hal ini tentunya bergantung pada perhatian dan konsentrasi Menag terhadap pendidikan Islam selaku pemegang kebijakan.

Politik pendidikan masa orde lama sangat dipengaruhi politik ideologis, seperti pembentukan IAIN pada tahun 1960 sebagai ‘jatah’ bagi kaum muslimin, sedangkan UGM untuk ‘golongan nasionalis’. Berbeda dengan orde lama, masa orde baru cenderung non-ideologi politik yang lebih menekankan pada  develomentalisme (pembangunan). Sehingga orba ini meninggalkan ‘warisan’ (legacy) penting pendidikan Indonesia yakni sekolah inpres dan pembentukan IAIN sepanjang akhir 1960/awal 1970 dalam penguatas Diktis. Ikhtisar awam saya mengatakan semakin jelas dan kontras, bahwa politik benar-benar berpengaruh terhadap kebijakan pendidikan di Indonesia. Oleh sebab itu, sebagai seorang akademisi pun jangan tabu dengan yang namanya politik. Karena politik bisa dijadikan sebagai alat atau strategi untuk memajukan bangsa dan negara ini dalam konteks pendidikan.

Pada kesempatan kedua, yaitu berbicara mengenai politik hukum Indonesia, yang dipaparkan oleh Prof. Khoiruddin. Beliau menjelaskan beberapa inti yang menjadi kontruksi politik hukum di Indoneisa ini, diantaranya adalah arah pembangunan hukum, dasar penetapan hukum, format dan bentuk yang dibentuk, integritas penegak hukum, dan kesadaran hukum masyarakat. Poin-poin inilah yang menjadi prolog beliau dalam mengantarakan perkembangan hukum negara, dan kemudian meluas hingga mengenai hukum di dalam keluarga. Berbicara mengenai hukum ini tentunya diawali dari keluarga, jika seorang anak berbuat salah berarti ada masalah dengan pendidikan keluarganya. Tanggung jawab pendidikan yang utama bagi seorang anak adalah keluarga, karena menurut Prof. Khaeruddin, pendidikan yang berlangsung di sekolah relatif sebentar hanya beberapa jam saja. Namun waktu yang panjang adalah ketika anak itu berada di luar sekolah, maka waktu inilah yang menjadi tanggung jawab orang tua. Oleh karena itu, keluarga memiliki pengaruh yang besar dalam membentuk kepribadian seorang anak yang baik, dalam hal ini adalah ayah dan ibunya.

Tak terasa sudah 3 jam berlalu, hingga jarum jam menunjukkan pukul 15.30, kemudian Prof. Khoiruddin mengakhiri penyampaian materinya karena beliau harus sudah di Bandara Soekarno Hatta sebelum jam 18.15 WIB. Namun, sebelum beliau meninggalkan ruangan moderator meminta waktu untuk tanya jawab sekitar 30 menit. Para peserta pun bertanya kepada kedua pemateri dengan dibuka dua sesi pertanyaan. Setelah Prof. Khoiruddin menjawab beberapa pertanyaan-pertanyaan, beliau berpamitan untuk langsung meluncur ke Bandara. Diskusipun terus berjalan antara peserta seminar dengan Prof. Azra hingga waktu penutupan.

Sekian, dan terima kasih

Korupsi Yang Membudaya


Korupsi di negeri ini nampaknya sudah membudaya dari generasi ke generasi. Para pejabat negara yang menjadi wakil rakyat sudah berani membohongi dan menghianati rakyat, padahal mereka mengatakan bahwa mereka adalah pembela kepentingan rakyat. Di manakah janji manismu yang dulu pernah terucap saat memohon-mohon dukungan kepada rakyat? Apa kau lupa? Aku tidak tahu jalan pikiranmu tega-teganya melakukan perbuatan dzolim tersebut yang sangat merugikan negara yakni korupsi. Menjadi pejabat negara memang tidak semudah dengan apa yang diucapkan. Karena dibutuhkan tiga aspek kecerdasan, yaitu kecerdasan intelektual, spiritual dan emosional. Ketiga hal ini harus seimbang dan selaras dalam sepanjang hidupnya. Jika hanya intelektual dan emosional yang kuat, namun spiritualnya lemah, maka biasanya tidak akan mampu mengendalikan nafsu untuk memanfaatkan kesempatan yang ada untuk korupsi.

Korupsi individual menjadi bahagian sejarah orde baru yang tentunya mengalami paradigma berbeda dengan era reformasi yang penuh dengan langkah pembaharuan, karenanya masyarakat sangat responsif atas buruknya penegakkan hukum di era orba tersebut. Namun pada realitasnya, praktek korupsi di era reformasi pun tidak bisa dihindarkan, kejahatan ini terus menyambar di sejumlah pejabat negara yang lebih kepada polemik korupsi kelembagaan, hingga menjamur di kalangan institusi pemerintahan, kenegaraan maupun swasta. Bangkitlah penegak hukum!!!

Oh, penegak hukum yang mana yang bangkit? Masih hangat berita benar, pada 10 Oktober 2013, mengenai tertangkaptangannya penegak hukum tertinggi di negeri ini, yang merupakan gerbang keadilan hukum di Nusantara ini telah tumbang akibat kasus korupsi pula. Ya, sebut saja Aqil Mukhtar selaku ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia yang tertangkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. Ia terjerat kasus korupsi karena menerima suap sengketa pilkada di Lebak, Banten dan daerah-daerah lainnya. Di manakah pertanggungjawabanmu Pak Aqil Mukhtar, dimana kata-kata manismu sebelum menjadi ketua MK yang igin berjuang menegakkan keadilan di Bumi Pertiwi ini, tapi malah berkhianat kepada bangsamu? Selain itu, praktek-praktek suap menyuap untuk menjadi pegawai negeri di beberapa lembaga pun sudah menjadi hal yang biasa. Apakah masyarakat tahu? Tentu tahu, karena tetangganya sendiri yang melakukannya.  Lalu dimanakah penegak hukum itu?

Tentu, harapan terakhir penegakkan hukum di negeri ini adalah KPK meskipun dalam kinerjanya masih lamban karena jumlah personil yang sedikit dan terbatas. Kita berharap saja, semoga KPK mampu memberantas praktek-praktek korupsi yang membudaya di negeri ini hingga ke akar-akarnya. Dan semua aparat penegak hukum yang lain seperti Polisi, Jaksa dan Hakim, diharapkan pula untuk turut serta dalam aksi ini. Dalam sintesa awam saya menyatakan bahwa korupsi terjadi karena begitu minimnya pengawasn dan pencegahan dari pemerintah atau aparat yang berwewenang sehingga kesempatan untuk korupsi sangat besar untuk dilakukan. Maka korupsi bisa dilawan dengan beberapa hal, diantaranya membuat sistem yang transparan dalam aparatur pemerintahan terutama anggaran, membuat aturan pencegahan dan pengawasan yang ketat terhadap para pejabat negara. Dengan demikian semoga dapat membuat mereka selalu terawasi dan tidak ada kesempatan untuk melakukan praktek-praktek korupsi atau jenis yang lainnya. 

Pendahuluan Evaluasi Non Tes


Pada kesempatan ini saya akan menyampaikan materi tentang teknik evaluasi non tes. Teknik adalah cara atau metode. Sedangkan evaluasi artinya penilaian terhadap tingkat keberhasilan siswa mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam sebuah program.[1] Tehnik evaluasi non tes berarti melaksanakan penilain dengan tidak mengunakan tes. Menurut Dr. Suharsimi Arikunto yang dikutip Mustaqim dalam buku Psikologi Pendidikan mengatakan bahwa ada tiga istilah yang sering muncul dan hampir sama dalam pemakaian sehari-hari ialah pengukuran, penilian dan evaluasi. Pertama, mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran. Pengukuran bersifat kuantitatif. Kedua, menilai adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik-buruk. Penilaian bersifat kuantitatif. Dan ketiga mengadakan evaluasi meliputi kedua langkah di atas yakni mengukur dan menilai.[2]

Penilaian terhadap proses pengajaran dilakukan oleh guru sebagai bagian integral dari pengajaran itu sendiri. Artinya, penilaian harus tidak terpisahkan dalam penyusunan dan pelaksanaan pengajaran.[3] Jadi teknik evaluasi dalam pembelajaran merupakan serangkaian kegiatan untuk menilai atau mengevaluasi proses pembelajaran secara menyeluruh yang meliputi sikap dan tingkah lagi siswa atas apa yang telah direncanakan untuk mencapai sebuah keberhasilan. Hasil pembelajaran, bisa terlihat dalam kategori sukses tidaknya yaitu melalui hasil evaluasi, sehingga menjadi barometer untuk meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan.

Dalam hal apapun, evaluasi menjadi hal yang penting dalam upaya menemukan makna. Misalkan dalam bidang ekonomi, politik, pemerintahan dan sebagainya. Begitu juga dalam dunia pendidikan, evaluasi menjadi hal yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya. Tanpa menggunakan evaluasi, seorang guru tidak dapat melihat sejauh mana pencapaian tujuan pembelajarannya, seberapa tinggi tingkat penguasaan materi ketika mengajar, metode yang digunakan, dan skill yang dimiliki untuk mendiagnosa kelemahan dan kelebihan siswanya. Sehingga dapat mempermudah dalam meningkatkan mutu pendidikan maupun mutu pembelajaran.

Menurut Fion Lim CB., konsep mutu dalam bidang pendidikan berbeda dengan industri. Perbedaannya terletak pada unsur manusiawi yang diproses sebagai hasil. Oleh karena itu, akhir penilaian mutu yaitu pada mutu lulusan. Mutu lulusan sangat beragam dan kompleks antara satu dengan lainnya dalam kelompok lulusan yang sama. Penilaian sederhana yaitu jika lulusan dapat diterima bekerja sesuai bidang keilmuannya dan/atau diterima di perguruan tinggi terkemuka bagi yang melanjutkan studi, maka lembaga pendidikan tersebut dinilai sangat bermutu.[4]

Dalam pembelajaran di kelas terdapat beberapa komponen yang meliputi perencanaan, proses, observasi dan evaluasi. Dalam penerapannya digunakan skala waktu yang telah ditentukan. Satu sama lain saling berkaitan dan menentukan hasil pembelajaran di dalam kelas. Jika masih ada kekurangan, maka kegiatan tersebut dapat diulangi kembali hingga terdapat peningkatan sesuai dengan barometer yang telah ditentukan.

Ketika kita hendak melakukan evaluasi, maka dibutuhkan teknik sebagai cara untuk mengevaluasi. Sehingga hal ini disebut dengan teknik evaluasi. Teknik evaluasi memiliki dua cara, yaitu teknik evaluasi tes dan teknik evaluasi non tes. Keduanya memiliki proses dan tata cara yang  berbeda-beda satu sama lain untuk mencapai tujuan dan barometer pencapaian dalam pembelajaran. Dengan teknik evaluasi inilah kita dapat mengetahui hasil dari pembelajaran yang telah dilakukan. Dengan demikian, ikhtisar awam saya mengatakan bahwa evaluasi non tes dalam pendidikan sangatlah penting di samping tes, dalam upaya peningkatan mutu dan hasil pembelajaran yang dilakukan dengan observasi, kuesioner, wawancara, dan lain-lainnya. 


[1] Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 2001), h. 175
[2] Mustaqim, Psikologi Pendidikan, (Jakarta : Pustaka Pelajar, 2008), h. 161
[3] Ahmad Rohani, Pengelolaan Pengajaran, (Jakarta : Rineka Cipta, 2004), h. 168
[4] Deden Makbullah, Manajemen Mutu Pendidikan Islam, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2011), h. 36-37