Senin, 05 Desember 2011

Menggali Potensi, Temukan Jati Diri

Pada awalnya, sebelum mendaftarkan diri sebagai calon anggota LDK “UF”, aku selalu mengira bahwa diri ini tak mampu melakukan segala sesuatu di luar kemampuan saat itu. Kadang hatipun merasa tak sanggup menjalani hidup di dunia organisasi dakwah ini yang mungkin disebabkan tidak adanya bakat dan pengalaman tentang organisasi ke-Islaman secara mendalam dan profesional, baik dari Sekolah Dasar hingga di Madrasah Aliyah kala itu.

Hal itulah yang kadang menjadi beban psikis untuk dapat membasahi seluruh tubuh ini secara totalitas di dunia organisasi ini. Sungguh awalnya ku berniat hanya untuk bisa dan mampu berbicara di depan khalayak umum karena memang LDK merupakan salah satu wadah yang memfasilitasi untuk menggembleng keterampilan berbicara, yaitu berpidato. Serta harapan kedua yang ingin ku capai adalah mengembangkan minat dan bakat di nasyid yang memang pada saat itu pernah menjadi salah satu personil nasyid yang cukup terkenal di kalangan masyarakat serang dan cilegon, yaitu tim nasyid peace voice (suara perdamaian).

Selanjutnya, dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim ku enyahkan segala perasaan psimis itu dan mulai ku dayung perahu layar ini menuju harapan dan cita yang terbesit dalam hati, yaitu ingin mampu berbicara di depan khalayak umum dan mengembangkan bakat keterampilan bernasyid. Dengan penuh kesadaran, akhirnya ku daftarkan diri untuk mengikuti kegiatan PERMATA XI (Penerimaan Anggota yang ke 11) yang waktu itu bertempat di Pon-pes Nurul Fikri Anyer. Subhanallah.. episode baru telah ku mulai dan sepertinya ku berada dalam wahana baru yang belum pernah dirasa sebelumnya betapa besar dan berharganya pengalaman baru itu yang takkan pernah terlupakkan dalam sepanjang hayatku.

Dari pelatihan tersebut ku tahu LDK lebih jauh lagi dan ku paham Islam lebih mantap lagi, bukan hanya teori yang ku dapati akan  tetapi implementasi dari teori ke-Islaman itu sendiri, sehingga menjadi prinsip dasar dalam menempuh kehidupan ini. Betapa indahnya jama’ah dan persaudaraan ini, menjalani hidup di bawah naungan Al-Qur’an dan Al-Hadits yang satu sama lain saling mengingatkan di kala salah dan lupa. Akhirnya ku tersentak bahwa benar lingkungan itu sangat mendukung untuk membentuk karakter dan kepribadian orang. Oleh karena itu berhati-hatilah dengan memilih lingkungan pergaulan, jika berada dalam lingkungan yang penuh dengan cahaya, maka akan selamatlah hidupnya, akan tetapi jika sudah terperosok dalam lubang kegelapan maka akan selamanya dalam kegelapan.

Hari demi hari ku lalui bersama LDK “UF”,  hingga pekanpun berganti menjadi bulan, dan terus ku sibukkan diri mengikuti runtinitas kegiatan-kegiatan yang telah dirancang pengurus saat itu, mulai dari kajian, ta’lim, mentoring dan tak lupa untuk latihan nasyid. Atas konsistensi dan ketaatan dalam setiap kegiatan selama satu tahun, maka tibalah saatnya pergantian pengurus yang baru dan melalui pertimbangan dewan formatur akhirnya ku diberikan amanah sebagai pengurus di Sekretaris umum LDK Fakultas tarbiyah dan adab tahun 2008-2009.Tak terasa ku lewati masa kepengurusanku yang terlihat amat belia sekali dalam menjalankan organisasi, tapi Alhamdulillah dari rapat ke rapat, dari kegiatan ke kegiatan, dari acara ke acara, mampu terealisasi bersama dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. 

Banyak kenangan terindah dari pengalaman baru itu hingga dapat mengantarkan pada masa kepengurusan sekarang (2009-2010) yaitu diberikan amanah lagi sebagai Sekretaris Umum di LDK “UF” IAIN “SMH” Banten. Dari perjalanan itu ku mampu mengerti arti hidup di dunia ini, moralitas yang terbangun kokoh, fikroh Islamiyah yang universal, ruhiyah/keimanan yang tertata rapi di qalbu dan juga jasadiyah yang kuat melakukan banyak hal. Ku terus belajar mengenal seluruh karakter, kepribadin, potensi dan keterampilan dari sahabat-sahabatku yang lain hingga mampu mengisi kekosongan potensi dari apa tidak aku bisa. Ternyata potensi itu bisa tergali melalui sebuah upaya dan usaha di bidang apapun yang kemudian akan menjadi tata nilai, menjadi keyakinan, menjadi sikap, dan kemudian menjadi kebiasaan yang akhirnya menjadi jati diri. Segala hal pasti akan bisa kita lakukan jika kita berupaya untuk mencobanya dari langkah awal hingga langkah-langkah berikutnya. Sesungguhnya kita bisa jika kita berfikir bias.

Sabtu, 19 November 2011

Belajar Cinta Bersama LDK


Bila ku ingat masa-masa yang lalu, tak pernah ku rasakan keindahan hidup seindah hari-hari ini. Memang banyak kenangan berharga saat itu, tapi tak sebahagia hari-hari ini. Walaupun terkadang ingin kembali ke masa itu, tapi tetap ku ingin lanjutkan hari-hari ini. Namun, walaupun demikian kita harus senantiasa sadar bahwa masa yang lalu yang telah dilalui, hingga hari ini yang tengah dijalani adalah merupakan bagian dari rangkaian hidup untuk mencapai kesuksesan hakiki menuju esok hari nanti yang lebih baik. Karena sejatinya kebahagiaan seseorang betul-betul diperoleh dari kesulitan-kesulitan terlebih dahulu, kesuksesan seseorang ditemukan setelah gagal berpuluh-puluh bahkan ratusan kali, tapi mereka tetap tegar dan istiqomah menjalaninya. Sebagaimana dalam pepatah bilang “berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu lalu senang kemudian”. 

Namun jika ia lelah dan tidak ingin terus bertahan, maka ia tidak akan mendapatkan kesenangan itu dan ia juga adalah seorang pecundang. Kebahagiaanku hari-hari ini berawal dari perjumpaanku dengan LDK “Ummul Fikroh” di kampus IAIN “SMH” Banten kala ini. Kehadirannya mampu menyulap kepribadianku menjadi insan Rabbani, generasi Qur’ani dan juga dapat mempertemukanku dengan teman-teman yang lainnya dalam barisan yang satu yakni ukhuwah Islamiyah. Kehadirannya juga mampu menghidupkan ruh-ruh baru dalam diri ini, hingga dapat meluluh lantakan segala bentuk kekhilafan, kemalasan, ketidaktahuan yang ada pada separuh jiwa yang lalu. LDK memang bukanlah makhluk hidup layaknya kita manusia, akan tetapi LDK adalah sebuah lembaga yang di dalamnya terdapat mesin-mesin canggih yang digerakan oleh Aktivis Dakwah Kampus dari generasi ke generasi, yang mengajarkan tentang perjalanan hidup yang lebih berarti dan bermakna di bawah naungan al-Qur’an dan al-Hadits. Hari demi hari kita lewati bersama dalam nuansa Islami yang dapat menyejukkan suasana hatiku di tengah panasnya era modern yang syarat dengan keangkuhan dan kesombongan manusia dewasa ini.


LDK juga membimbingku tentang bagaimana menjaga keagungan sentuhan cinta yang telah dianugerahkan Sang Maha Pencipta kepada umat manusia. Siapapun yang mendapatkannya akan terpancarkan cahaya kebenaran dalam hatinya. Cinta yang pertama adalah cinta kepada Allah SWT sebagai sang Maha Pencipta alam raya ini beserta isinya, termasuk diri kita. LDK telah mengenalkan kepadaku untuk mengisi hari-hari kita untuk senantiasa membaca Al-Qur’an, mentadaburinya serta memahaminya dengan baik. Hal ini merupakan resep dasar untuk menumbuhkan kecintaan kita kepada Allah SWT dengan ayat cinta-Nya yang bisa menggetarkan jiwa seseorang yang bertaqwa. Kemudian LDK juga selalu mendorongku untuk berada di shof terdepan dalam shalat-shalat kita. Shalat-shalat yang kita dirikan baik itu shalat wajib maupun shalat sunnah adalah langkah konkrit kita untuk berusaha mendekatkan diri ke haribaan-Nya. Dan LDK juga senantiasa membimbingku untuk bergaul dan berkumpul dengan orang-orang shaleh untuk mengambil hikmah dan ilmu dari mereka sebagai upaya meningkatkan keimanan kepada-Nya serta membiasakan  kita untuk selalu berdzikir di pagi dan petang dan menanamkan nama-nama dan sifat-sifat Allah SWT dalam hati kita. Dengan demikian hati kita akan senantiasa teduh di bawah naungan-Nya. Cinta yang kedua adalah cinta kepada Rasulullah SAW. 

Selain cinta kepada Allah, LDK juga mengenalkanku bagaimana mencintai Rosulullah. Hal ini dibuktikan dengan senantiasa meneladani dan mengamalkan sunnahnya dalam kehidupan sehari-hari kita, mulai dari Fi’liyah, Qouliyhnya, ataupun Taqririyah. LDK juga mengingaktkanku untuk selalu menyampaikan shalawat dan salam kepada rasulullah, karena atas jasanya, perjuangannya, dan pengorbanannya hingga tersebarnya agama Islam ini di hadapan kita semua. Dan LDK juga sering melatihku untuk belajar menyampaikan nasihat kepada hamba-hamba yang lain untuk beriman kepada Allah SWT, kitab-Nya dan Rasul-Nya. Karena kita sebagai umatnya wajib untuk menyambung dan melanjutkan perjuangan beliau dalam mngajak dan memperingatkan umat manusia untuk kembali ke syari’at Islam. Cinta yang ketiga adalah cinta kepada kedua orang tua kita. Ingatlah saudaraku bahwa merekalah yang telah membesarkan kita hingga saat ini. Mereka selalu memperhatikan semua kebutuhan kita, dari sejak buaian hingga kita beranjak dewasa. Apakah kita ingat saat-saat indah bersamanya dalam dekapan kasih dan sayangnya, suka dan dukanya, tawa dan tangisnya, kebahagiaan dan jeritannya dan banyak lagi yang ia laukukan untuk kita tercinta. Tak ada yang mampu menandingi kecintaan orang tua kepada anaknya hingga ia rela berkorban dan berjuang tanpa pamrih dan tak kenal lelah. 

Maka pantaslah Allah SWT menempatkan surga ditelapak kaki Ibu kita karena kemuliaan dan keagungan apa yang ia lakukan. Namun, jika kita lalai sedikit saja dan jauh daripada kecintaan kita kepada ibu kita, maka harga mati untuk kita terseret dalam jilatan api neraka yang teramat panas dan dahsyat. Al-Hamdulillah di LDK ini, kita senantiasa diingatkan untuk terus berbakti dan menjadi anak shaleh yang selalu mendoakannya hingga datang hari pembalasan kelak nanti. Semua ini kita laukukan hanya untuk mengharap ampunan dan lindungan dari Allah SWT. Dan semoga akan mendatangkan kebahagiaan hakiki di dunia dan di negeri akhirat kelak nanti.    

Rabu, 05 Oktober 2011

Beginilah Seharusnya Cinta..

Cinta…, kata ini terdengar begitu indah nan syahdu pada setiap jiwa yang mendengar bisikannya, ia senantiasa datang kepada setiap insan yang hidup dan tumbuh berkembang di muka bumi ini. Pada bab ini tak sedikit orang membicarakannya karena cinta adalah fantasi hidup yang telah dianugerahkan Allah SWT Yang Maha Indah kepada seluruh makhluk-Nya di alam jagat raya ini. Cinta itu amatlah suci dan fitrah yang juga secara haq diberikan kepada umat manusia hingga kehidupan ini terasa indah, damai, tentram, bahagia dan mempesona atas keagungan yang terpancar di relung jiwa manusia. Sungguh hebat kekuatan cinta ini, mampu mengubah tatanan hidup dan kehidupan kita, dari masa ke masa, dari generasi ke generasi bahkan dapat membolak balikkan stabilitas hati dan perasaan kita dari yang sedih menjadi senang, dari yang sulit menjadi mudah, dari yang berat menjadi ringan, dari yang malas menjadi semangat, dari yang lemah menjadi kuat dan lain sebagainya. Sehingga akan memberikan kebahagiaan yang sejati dan abadi di dunia dan bermakna di akhirat kelak nanti.


Namun, tak sedikit orang mengartikan dan memandang cinta sebagai bagian dari pada fitrah dan anugerah Allah SWT yang betul-betul meski dijaga, dipelihara, senantiasa disiram serta ditumbuhkembangkan dengan ayar-ayat-Nya yang diturunkan kepada para nabi dan rosul sebagai panduan hidup dan undang-undang kehidupan. Tapi kebanyakan mereka menganggap bahwa cinta datang membawa kesenangan diri yang teramat dahsyat dalam kehidupannya yang tiada batas. Secara tidak sadar mereka mempergunakannya sebagai pelampiasan nafsu angkara terhadap apa yang ia sedang cintai. Sehingga mereka terkadang jatuh terperanjat akan buaian keindahannya ke lembah kemusyrikan, kedzoliman, kejahatan, dan bahkan kemaksiatan. Dan terkadang pula dibuatnya mabuk kepayang di rundung asmara hingga terseret dalam lembah perzinahan. Na’udzu billah mindzalik! 

Cinta yang tidak terpelihara dan tidak dilandasi oleh aturan agama, akan menyulap seseorang yang berawal kesenangan berakhir dengan penderitaan, dari suka menjadi duka, dari yang mudah akan dipersulit, dari yang ringan akan menjadi berat, dari yang semangat akan menjadi malas, dari yang kuat menjadi lemah dan lain sebagainya. Itulah balasan bagi orang-orang yang tidak mau mendengarkan ayat-ayat Allah SWT. Permainan cinta ini, sesungguhnya diatur secara penuh oleh Islam yang kompleks dan menyeluruh. Jadi, kewajiban kita adalah mengamalkan syari’at Islam tersebut agar terbebaskan dari cinta palsu yang melenakan. Dengan senantiasa mengharapkan ridho dan rakmat-Nya.


Jumat, 09 September 2011

Pandangan Pertama Kepada LDK “UF“


Sudah tiga tahun silam yang lalu awal-awal ku masuk di kampus jingga, IAIN ”Sultan Maulana Hasanuddin“ Banten, tak jauh berbeda keelokan namaku tercatat sebagai anggota LDK ”UF“. Hampir pupus memori ingatan ini mengulang masa-masa itu dalam skeneario cerita di lembaran awal ku singgah di kampus ini. Namun kan kucoba urai kembali kenangan masa itu, untuk mengenang jejak-jejak kehidupan di masa lalu.   

Testing penerimaan mahasiswa baru usai ku lakukan di kampus ini, yang pada saat itu diikuti seribu lebih calon mahasiswa yang mendaftarkan diri sebagai peserta test masuk. Beberapa pekan kemudian, Alhamdulillah, terpampanglah nama kepanjanganku beserta nomor peserta test di papan pengumuman tepat di depan gedung rektorat samping kanan. Rasa senang dan gembira kian menyatu menjadi kebahagiaan yang tak terkira kala itu sebagai pejuang yang lolos dari halang rintang hingga kemudian menjadi mahasiswa di jurusan Pendidikan Bahasa Arab. Akan tetapi, perjuangan itu tidak cukup sampai di sana, melainkan meski ikut serta juga dalam program orientasi kampus yang merupakan program wajib untuk mahasiswa baru ataupun mahasiswa lama yang belum mengikutinya. 

Orientasi pengenalan kampus yang diselenggarakan saat itu bernama OPEKA’07 (Orientasi Pengenalan Akademik tahun 2007). Dengan hati bertanya-tanya dan rasa penasaran ingin mengetahui kampus yang tengah ku duduki saat itu lebih jauh lagi, baik dari segi akademis, letak geografis maupun seluruh organisasi atau unit kegiatan mahasiswa yang terdapat di dalamnya, dan akhirnya bersegeralah ku berniat untuk mendaftarkan diri sebagai peserta OPEKA’07 yang kemudian disambung dengan persiapan segala persyaratan dan kebutuhan hingga waktu pelaksanaan tiba.

Cikal bakal ku tahu UKM LDK “UF“ telah nampak ketika mengikuti program  orientasi itu. Hari demi hari kulalui dengan penuh penghayatan hingga datang saat-saat yang menggembirakan dan dinanti-nantikan, yaitu tatkala seluruh organisasi dan unit kegiatan mahasiswa menunjukkan kehebatan dan kebolehannya di depan peserta OPEKA’07 yang mengundang mahasiswa baru untuk bergabung di dalamnya. Namun dari sekian banyak organisasi dan UKM yang tampil di atas pentas, ada satu UKM yang mampu menggetarkan jiwaku akan pesona dan paras wibawa para organisatornya. 

MC pun memanggil mereka dengan suara menggema dan penuh kesemangatan di Auditorium yang sesak akibat penuhnya peserta. Kemudian mereka bergegas merasuk ke dalam Auditorium itu dengan barisan yang rapi dan teratur bagai prajurit yang siap bertempur di medan perang perjuangan. Sang protokol langsung mengambil alih acara dan memandu dari mulai pembukaan, perkenalan, penampilan-penampilan kreatifitas mereka hingga tanya jawab. Dan yang paling berkesan dan cukup memikat hati dari penampilan-penampilan itu adalah kreasi Nasyid yang seakan-akan hati ini terseret untuk bergabung dalam pementasan itu. Ternyata UKM itu bernama Lembaga Dakwah Kampus “Ummul Fikroh“ IAIN “SMH“  Banten.

Sabtu, 21 Mei 2011

Ummul Fikroh Fair 2011

Pagi itu langit masih terlihat hitam, dan bintang-bintang masih setia menghiasinya. Selepas membuka mata, aku teringat bahwa hari ini adalah pembukaan Ummul Fikroh Fair 2011. Kemudian ku bergegas keluar dari kamar untuk menunaikan shalat subuh berjaa'ah di masjid yang tidak jauh dari rumahku. Udara pagi yang terhempas di tubuh ini begitu dingin dan sejuk seakan-akan ku berada di kutub utara. Sementara aku yang tengah mengambil air wudhu terus berperang melawan dinginnya air yang kerap membuat ku menggigil. Suasana terasa hening dan syahdu membuat hatiku menjadi tentram nan damai.

Tak ku dengar suara apapun, hanya alunan tarhim yang menggema di setiap masjid dan ada juga yang sudah mengumandangkan adzan. Selepas menunaikan shalat subuh lalu kusempurnakan dengan membaca beberapa ayat-ayat cinta Allah SWT hingga jarum jam di masjid itu menunjukkan pukul 05.30 WIB dan akhirnya ku beranjak untuk pulang ke rumah. Langit sudah semakin memutih, bintang-bintang dan bulanpun terlihat begitu pucat di angkasa sana. Ini bertanda siang akan segera datang. Lalu ku lanjutkan azamku untuk berangkat ke kampus untuk melaksanakan suksesi pembukaan UFF 2011 tersebut, karena pada hari sebelumnya aku taklimatkan ke semua panitia untuk berkumpul di Aula Madya IAIN "SMH" Banten pukul 07.00 WIB, sementara acara pembukaannya akan dilaksanakan pukul 08.00 WIB.

Blade merahku mulai ku panaskan dan perlahan-lahan ku dorong keluar rumah, sementara orang-orang sudah mulai ramai di jalan-jalan kampung yang rindang itu untuk menghabiskan waktu bersama dinginnya pagi. Ada diantara mereka yang berlari pagi, ada yang main bulu tangkis, ada juga yang sibuk membereskan atau bersih-bersih halaman depan rumahnya. Termasuk bapakku, yang biasanya setelah menyaksikan ceramah dan berita pagi di Televisi, beliau pasti ke depan halaman rumah untuk menyirami bunga-bunga yang masih menguncup, dan terkadang juga aku atau kakakku. Seiring waktu yang terus berputar dan sinar mentari yang sudah mulai merona di langit luas sebelah timur, namun berlum terlihat jelas karena terhalang oleh pohon-pohon yang rimbun. Ibuku yang baru saja keluar dari dapur menemuiku di mana aku memanaskan motorku.

"Mau pergi kemana Nid pagi-pagi bener?" Tanya ibukku dengan nada rendah
"Kebetulan hari ini ada kegiatan bu di kampus." Jawabku sambil tersenyum manis
"Kalo mau sarapan masih ada nasi tuh, tapi lauknya belum dimasak sisa tadi malam!" Imbuhnya
"Nanti ja lah gampang, masih terlalu pagi kalo sarapan sekarang." Sedikit menyangkal
"Ya dah bu, saya mau berangkat ke kampus sekarang" Pamitku sambil mencium tangannya
Bapakku yang berada di depan kuhampiri untuk memohon pamit dan doanya. Jarum jam di rumahku sudah menunjukkan pukul 06.15, aku tidak mau datang kemudian helm dan tas rangselku mulai ku pakai dan bergegas untuk berangkat.

                                                                            ***

Dalam sepanjang perjalanan itu, HP-ku berbunyi berulang kali, sepertinya banyak panggilan atau sms yang masuk. Namun aku tak memperdulikannya karena sebentar lagi aku sampai di kampus. Jam di tangan kiriku sudah menunjukkan pukul 06.50, berarti tinggal sepuluh menit lagi aku harus sampai di sana. “Pokoknya jangan sampai aku datang terlambat atau lewat dari yang ditentukan, karena pemimpin harus jadi teladan bukan telatan. He..he..” Gumamku dalam hati. Gas terus ku tancap hingga meyelip rentetan mobil dan motor di sebelah kiriku.

Sinar mentari di pagi itu kian merona berwarna kuning keemasan dan terus menjelajah hingga perkotaan. Dari kejauhan nampak beberapa ikhwan yang sudah stand by di dalam aula sejak beberapa menit sebelum kedatanganku. Dan beberapa akhwat juga sibuk membungkus konsumsi di sekretariat LDK untuk tamu undangan. Dan alhamdulillah, aku juga tidak terlambat sampai di sana dan langsung bergabung menyiapkan hal-hal yang belum selesai, seperti infocus yang belum terpasang saat itu.



Oia, aku baru sadar ada beberapa panggilan dan sms yang masuk di HP-ku. Kemudian langsung saja ku lihat, ternyata ada 3 panggilan tak terjawab dari chozinuddin selaku ketua panitia dan 1 sms yang masuk darinya. “Akh kursi sofa gimana? Mau d ambil jam brp?”. Isi sms tadiSms itu tidak perlu ku jawab, karena aku sudah bertemu langsung dengannya di depan aula.“Afwan akhi, tadi ana masih di jalan, jadi ga sempet terima telfon apalagi buka sms” Kataku sedikit menjelaskan“Ayo kita ambil kursinya sekarang di ruang Purek 3”. Ajakku kepada semua temen-temen ikhwan yang ada di sana.Tapi sepertinya para dosen dan seluruh karyawan sedang ada apel pagi di depan, dan purek 3 pun ada di dalamnya. Waktu sudah menunjukkan pukul 07.30 WIB, sementara kursi belum di bawa ke aula. Satu sama lain di antara kami saling menatap, lalu ada yang merunduk dan ada juga yang membuang pandangan ke luar sebelah kiri gedung rektorat. Tak satupun kata yang terucap dari bibir ini, dan tampaknya wajah mereka sedikit murung dengan keadaan yang demikian. Tapi aku harus mampu membawa keadaan yang tidak membuat mereka hilang semangat. Sebagian panitia yang lain juga sudah datang dan berkumpul di aula. Aku berfikir sejenak, daripada kita berdiri di depan pintu rektorat ini yang sepi dan hampa, mending kita kembali ke aula hingga apel pagi usai di laksanakan.


“Akhi, kita ke aula lagi deh, nanti kita ke sini lagi setelah apel para dosen selesai”. Kataku dengan nada sedikit keras dan memecah keheningan“Ya dah akh, kita ke aula dulu”. Jawab andri dengan mengangguk-anggukan kepala “Ya.. Ayo.. ayo..”. Semuanya mengamini ajakanku


                                                                     ***

Aku tidak ingin menunjukkan rasa kecewa ini kepada teman-teman yang lain, sehingga aku harus tetap tegar menghadapinya. Aula yang ramai dengan hiasan-hiasan di dinding, dekorasi panggung yang mungil dan menawan, serta baliho besar yang terpampang di depan dengan desain yang indah dan menarik, cukuplah untuk menghibur hatiku yang sedang gontai. Ku lihat panitia akhwat yang tengah membawa konsumsi di sebelah kananku, dan ada juga yang meluruskan kursi yang masih belum beraturan di dalam aula, mereka tampak begitu kompak dengan seragam batik dan kerudung yang mereka kenakan. Sedangkan ikhwan bermacam-macam dengan berbagai motif yang mereka senangi. Tapi yang terpenting adalah kerjasamanya, bukan seragamnya. Ya kan!

Suasana kampus sudah semakin ramai, karena pada waktu yang sama FORMASI juga ada acara pembukaan Pekan Olahraga Mahasiswa (POM XIII) tepat di depan aula, yakni di lapangan syari’ah. Tapi tidaklah mengapa, itung-itung untuk memeriahkan acara kita juga. Kan namanya juga “Ummul Fikroh Fair”, jadi harus ramai dan meriah. Para peserta MSQ pun sudah berbondong-bondong datang dan siap mengikuti perlombaan. Tapi sepertinya acara belum bisa dimulai. Sementara sebagian panitia juga terlihat setengah bingung dan bimbang melihat belum ada kepastian untuk dimulainya acara.

“Akh nid, apel pagi dah selesai tuh, ayo kita ke rektorat lagi”. Ujar Syarif dengan antusias“Ok.. Ayo kita langsung saja ke sana! Ajak temen-temen juga tuh di depan”. Kataku sambil mendahuluiWaktu sudah menunjukkan pukul 08.00 WIB, harusnya acara sudah di mulai. Para pesera MSQ sudah berjejer mengisi kursi yang panitia siapkan. Tapi tamu undangan dari Kemenag dan walikota tak kunjung datang. Sementara pak rektor dan purek 3 masih berada di depan rektorat dimana mereka tengah berbincang-bincang usai apel pagi. Dan kami masih setia menunggu mereka di depan ruangannya.“Jika pak rektor datang, kita harus ingatkan lagi bahwa beliau akan memberikan sambutan di LDK”. Ungkapku kepada ketua SC“Ya antum ja yah yang mengingatkan, saya memastikan ke purek 3 untuk pinjem kursi” Jawab ketua SC mengelak“Oh ya dah..” Aku mengalah. 

Suasana semakin tegang di dalam ruang tunggu itu, tepatnya di depan ruang pak rektor. Udara pagi yang dingin kini beruba menjadi panas. Ketua panitia POM XIII dari FORMASI pun ikut menunggu kehadiran pak rektor untuk memberikan sambutan di acaranya. Tak banyak hal yang aku perbuat, hanya berdoa kepada Allah SWT agar dipermudah segalanya.Hatiku semakin tidak tenang, ingin cepat memulai dan mensukseskan agenda UFF ini. Aku teringat perjuangan dan pengorbanan teman-teman panitia, yang sudah berjibako mendesain dan menyusun agenda kegiatan yang besar dan spektakuler ini. Persiapan yang kami lakukan sekitar 2 bulan lebih dengan penuh kesabaran dan perjuangan. Tak hanya waktu yang ia korbankan, tapi tenaga, harta bahkan sampai ada yang jatuh sakit karena menahan lelah danletih. Subhanallah.. Semoga Allah senantiasa meridhoi dan membalas dengan yang setimpal. Amin..

“Akh nid, kok ngelamun?? Itu pak rektor sudah datang..”. Ungkap hafid sembari memegang pundakku“ Astagfirullah.. Ya..ya.., afwan akh”. Aku tersentak Pak rektor dan purek 3 berjalan bersama, diikuti oleh sekretaris dan beberapa karyawan lainnya.“Assalamualaikum.. Bapak punten, kami dari LDK meminta Bapak untuk sambutan di acara kami sekarang pak?” Pintaku dengan hembusan nafas yang begitu cepat“Waalaikumsalam.. Purek 3 ja tuh yang sambutan, bapak mau keluar”.  Jawab pak rektor“ Mohon maaf pak sebelumnya, bukannya bapak malam jum’at kemaren sudah siap untuk memberikan sambutan di acara kami”. Imbuhku “Bapak mau ta’ziyah sekarang ke salah satu rumah karyawan yang bapaknya meninggal. FORMASI sekarang lagi ya? Cobasih koordinasi dulu kalo ngadain kegiatan, agar ga bentrok kayak gini”. Ungkapnya sambil masuk ke ruangannya. 

“Cobaan apa lagi yang menimpa kami??? Akankah kami mampu melewatinya” gumamku dalam hati. Para peserta MSQ sudah berdatangan, namun acara pembukaan belum juga siap. Aku tertegun, mendengarkan pernyataan pak rektor tadi. Teman-teman yang lain juga terperangah seakan kehadiran pak rektor sangat sulit diharapkan. Semuanya terdiam seribu bahasa dengan kepala merunduk ke bawah. Dengan berjalan tergesa-gesa, pak Rektor akhirnya memberikan kata harapan kepada kami bahwa nanti ia akan hadir jam 09.00. "Baiklah, saya akan hadir setelah takziyah sekitar jam 09.00 ya!" ungkapnya sambil meninggalkan ruangan.

                                                                                ***
Waktu sudah menunjukkan jam 09.00