Tradisi
pensantren adalah sistem pendidikan Islam yang tumbuh sejak awal kedatangan
Islam di Indonesia. Sebelum tanggal 1960, pusat-pusat pendidikan pesantren di
Indonesia lebih dikenal dengan nama pondok. Istilah pondok barangkali berasal
dari pengertian asrama-asrama para santri atau tempat tinggal yang dibuat dari
bambu, yang dalam bahasa Arabnya berasal dari kata funduq, yang berarti
hotel atau asrama. Perkataan pesantren sendiri berasal dari kata santri, yang
dengan awalan pe di depan dan akhiran an yang berarti tempat
tinggal para santri.
Pesantren tertua di Banten yang muncul di abad 19-20, salah satunya adalah Pesantren Citangkil, di Cilegon. Hingga saat ini, telah tumbuh dan berkembang juga pondok-pondok dan pesantren-pesantren di hampir setiap daerah di Provinsi Banten, dengan berbagai corak dan ciri khas sistem pendidikan yang bermacam-macam. Yang pertama, pesantren yang bercorak salafi atau tipe lama (kalsik) yang mengajarkan kitab-kitab Islam klasik. Walaupun sistem madrasah diterapkan, tujuannya untuk memudahkan sistem sorogan yang dipakai dalam lembaga-lembaga pengajian bentuk lama. Tipe ini tidak mengenalkan pengajaran pengetahuan umum. Misalnya pesantren At-Thohiriyah di Kota Serang, pesantren Jauharotun Naqiyah di Cibeber, Kota Cilegon, pesantren Roudhotu Tholibin di Cidahu, Pandeglang. Yang kedua, pesantren yang bercorak modern atau tipe baru dengan muatan materi yang lebih komprehenship, yaitu mendirikan sekolah-sekolah umum dan madrasah-madrasah selain juga pondok pesantren. Sehingga tipe ini dapat dikatakan gabungan antara pondok dan sekolah. Santri tidak hanya diajarkan kitab-kitab klasik, namun diajarkan juga materi umum, skill (kemampuan) berbahasa asing, dan lainnya. Misalnya pesantren Al-Mubarok dan Daar El-Istiqomah di kota Serang, pesantren Daar El-Qolam di Gintung Tangerang, Pesantren LATANSA di Lebak, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Pesantren tertua di Banten yang muncul di abad 19-20, salah satunya adalah Pesantren Citangkil, di Cilegon. Hingga saat ini, telah tumbuh dan berkembang juga pondok-pondok dan pesantren-pesantren di hampir setiap daerah di Provinsi Banten, dengan berbagai corak dan ciri khas sistem pendidikan yang bermacam-macam. Yang pertama, pesantren yang bercorak salafi atau tipe lama (kalsik) yang mengajarkan kitab-kitab Islam klasik. Walaupun sistem madrasah diterapkan, tujuannya untuk memudahkan sistem sorogan yang dipakai dalam lembaga-lembaga pengajian bentuk lama. Tipe ini tidak mengenalkan pengajaran pengetahuan umum. Misalnya pesantren At-Thohiriyah di Kota Serang, pesantren Jauharotun Naqiyah di Cibeber, Kota Cilegon, pesantren Roudhotu Tholibin di Cidahu, Pandeglang. Yang kedua, pesantren yang bercorak modern atau tipe baru dengan muatan materi yang lebih komprehenship, yaitu mendirikan sekolah-sekolah umum dan madrasah-madrasah selain juga pondok pesantren. Sehingga tipe ini dapat dikatakan gabungan antara pondok dan sekolah. Santri tidak hanya diajarkan kitab-kitab klasik, namun diajarkan juga materi umum, skill (kemampuan) berbahasa asing, dan lainnya. Misalnya pesantren Al-Mubarok dan Daar El-Istiqomah di kota Serang, pesantren Daar El-Qolam di Gintung Tangerang, Pesantren LATANSA di Lebak, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Diantara
lembaga-lembaga pendidikan yang ada di Provinsi Banten, pesantren menjadi
solusi alternatif pendidikan Islam yang benar-benar mendidik dan membina
peserta didik untuk memiliki karakter yang Islami. Pembinaan tersebut berjalan
selama 24 jam setiap harinya dengan berbagai aktifitas di dalamnya. Dalam hal
ibadah, aqidah dan mu’amalah, bukan lagi hanya mengkaji secara teori, namun
juga diiringi dengan upaya mempraktekkan dan pengamalannya. Namun memang
suasana kehidupan di pesantren tidaklah sebebas di lembaga lainnya. Terkadang
ada perasaan susah, gelisah dan kejenuhan, dan terkadang ada perasaan senang,
damai, tentram dan bahagia. Raden Ahmad Djajadiningrat pun, Bupati Serang dari
1901-1917, dalam buku kenang-kenangannya tentang kehidupannya semasa kecil
sewaktu mengikuti pendidikan di suatu pesantren. Ia tidak mengungkapkan sama
sekali segi-segi positif kehidupan pesantren. Ia memang tinggal hanya sebentar
saja di pesantren. Itu pun pada waktu umurnya masih sangat muda dan belum
memahami kekuatan tradisi pesantren yang sebenarnya. Sedangkan sarjana-sarjana asal
belanda seperti Van Den Berg, Hurgronje dan Geertz (sekedar menyebutkan
beberapa saja), yang telah betul-betul menyadari tentang pengaruh pesantren
yang sangat kuat dalam membentuk dan memelihara kehidupan sosial, kultural,
politik, dan keagamaan orang-orang perdesaan di Indonesia.
Dan menurut Profesor Jhons dalam bukunya, Islamization in Sumatra, the Malay and java, mengatakan bahwa pesantren-pesantren itulah yang paling menentukan watak ke-Islaman kerajaan-kerajaan Islam, dan yang memegang peranan paling bagi penyebaran Islam sampai ke pelosok perdesaan. Dari lembaga-lembaga pesantren itu, sejumlah manuskrip pengajaran Islam di Asia Tenggara dikumpulkan oleh pengembara-pengembara pertama perusahaan-perusahaan dangang Belanda dan Inggris sejak akhir abad ke-16. Untuk dapat betul-betul memahami sejarah Islamisasi di wilayah ini, kita harus mempelajari lembaga-lembaga pesantren tersebut, karena lembaga-lembaga inilah yang menjadi anak panah penyebaran Islam di wilayah ini. Dari pernyataan tersebut jelaslah bahwa pesantren sangatlah berpengaruh dalam membentuk karakter muslim yang kuat dan menjadi pusat penyebaran agama Islam, sehingga mereka (orang-orang Barat)merasa takut akan hal itu.
Dan menurut Profesor Jhons dalam bukunya, Islamization in Sumatra, the Malay and java, mengatakan bahwa pesantren-pesantren itulah yang paling menentukan watak ke-Islaman kerajaan-kerajaan Islam, dan yang memegang peranan paling bagi penyebaran Islam sampai ke pelosok perdesaan. Dari lembaga-lembaga pesantren itu, sejumlah manuskrip pengajaran Islam di Asia Tenggara dikumpulkan oleh pengembara-pengembara pertama perusahaan-perusahaan dangang Belanda dan Inggris sejak akhir abad ke-16. Untuk dapat betul-betul memahami sejarah Islamisasi di wilayah ini, kita harus mempelajari lembaga-lembaga pesantren tersebut, karena lembaga-lembaga inilah yang menjadi anak panah penyebaran Islam di wilayah ini. Dari pernyataan tersebut jelaslah bahwa pesantren sangatlah berpengaruh dalam membentuk karakter muslim yang kuat dan menjadi pusat penyebaran agama Islam, sehingga mereka (orang-orang Barat)merasa takut akan hal itu.
Ada lima kunci
keberhasilan seorang santri dalam menjalani pendidikan di pesantren,
diantaranya adalah:
1.
Niat yang ikhlas
Niat adalah nahkoda amal dalam
hidup ini, artinya segala perbuatan yang akan dilakukan adalah bergantung pada
niatnya, jika niatnya baik maka kebaikan yang akan didapatkan. Namun jika
niatnya buruk, maka keburukan pulalah yang akan didapatkan. Sebagaimana dalam
sabda Nabi SAW : Sesungguhnya amal perbuatan itu disertai niat dan setiap
orang mendapat balasan amal sesuai dengan niatnya.” (H.R. Bukhori dan
Muslim).
Seorang santri yang sudah berada di
lingkungan pesantren berarti ia sudah menjadi warga baru dalam pesantren.
Rumah, keluarga, dan kampung halaman, ia
rela meninggalkan untuk beberapa tahun untuk sebuah perjuangan mencari
kerdhoan-Nya. Dalam kondisi inilah dibutuhkan keikhlasan dari sang santri,
untuk meninggalkan semua urusan di kampung halaman dan fokus membangun niat
yang ikhlas untuk menuntut ilmu karena Allah SWT. Dan orang tua atau keluarga
pula harus mengikhlaskan anak-anaknya untuk menimba ilmu di sana, dan
menyerahkan semuanya kepada Allah SWT karena memang anak adalah hanya titipan
dari-Nya. Maka, kiyai dan para ustadz/ustadzah yang kemudian menjadi orang tua
barunya di pesantren tersebut yang tulus ikhlas menjaga, mendidik, membina dan
mengarahkan masa depan mereka.
2.
Motivasi yang jelas
Pesantren merupakan laboratorium pengembangan
atau tempat penggemblengan santri untuk melahirkan para kiyai dan ulama. Maka
motivasi yang harus dibangun oleh seorang santri adalah untuk menjadi ulama
karena Allah SWT dan berdakwah menyebarkan agama-Nya. Dan pesantren pula jelas
memiliki tujuan utamanya ialah untuk mendidik calon-calon ulama. Namun ada juga
para santri yang tinggal di pesantren untuk jangka waktu pendek (misalnya
kurang dari satu tahun) dan tidak bercita-cita menjadi ulama, bertujuan untuk
mencari pengalaman dan pendalaman perasaan keagamaan. Kebiasaan semacam ini
pada umumnya dijalani menjelang dan pada bulan Ramadhan. Umat Islam pada
umumnya berpuasa pada bulan ini dan merasa perlu menambah amalan-amalan ibadah,
antara lain sembahyang sunnat, membaca al-Qur’an dan mengikuti pengajian.
Para santri yang tinggal sementara
ini mempunyai tujuan yang tidak sama dengan para santri yang tinggal
bertahun-tahun di pesantren. Mereka inilah yang ingin menguasai berbagai cabang
pengetahuan Islam dan mempunyai keinginan yang kuat untuk menjadi ulama. Para
santri yang bercita-cita menjadi ulama, mengembangkan keahliannya mulai upaya
menguasai bahasa Arab terlebih dahulu yang dibimbing oleh seorang ustadz atau
kiyai yang mengajar sistem sorogan,
dan mengkaji kitab-kitab klasik lainnya yang digolongkan ke dalam 8 kelompok
jenis pengetahuan : 1. Nahwu (syntax) dan shorof (morfologi), 2. Fiqh. 3. Usul
Fiqh, 4. Hadits, 5. Tafsir, 6. Tauhid, 7. Tasawuf dan Etika, dan 8.
Cabang-cabang lain seperti tarikh dan balaghoh.
3.
Karakter yang baik
Diantara karakter seorang santri
adalah lemah lembut, sopan, santun, hormat dan taat terhadap guru, hormat dan
taat terhadap orang tua, sabar, ikhlas, tawakkal, tawadhu, disiplin, cerdas dan
masih banyak lagi karakter yang membangun pribadi Muslim yang sejati. Di dalam
pesantren inilah pembinaan karakter-karakter mulia tersebut, sebagai sarana latihan
bagi santri dalam menghadapi masa-masa ketika sudah berada di masyarakat kelak
nanti. Berbagai sistem dan peraturan diberlakukan oleh pesantren untuk melatih
kedisiplinan santri selama 24 jam dengan berbagai agenda dan kegiatan, mulai
bangun tidur sampai tidur kembali.
Salah satu agenda tersebut adalah
shalat berjama’ah setiap waktu baik shalat wajib maupun sunnah, tilawah
al-Qur’an, ngaji kitab setiap pagi dan sore hari atau malam hari, dzikir pagi
dan petang, masuk kelas/sekolah, kegiatan ektrakurikuler, keterampilan pidato
(muhadhoroh), pengembangan seni dan bahasa, lomba-lomba, kegiatan hari besar
Islam, serta agenda-agenda lainnya. Awal-awal barangkali ada yang merasa berat
untuk melaksanakannya, namun setelah lama dan terbiasa dilakukan dalam keseharian
maka lambat laun menjadi mudah dan ringan untuk diamalkan secara bersama.
Dengan implementasi kegiatan-kegiatan positif tersebut dapat melahirkan ruhani
atau spiritual santri yang kokoh, dan terciptanya akhlak dan karakter santri
yang mulia.
4.
Kemandirian dan
kepemimpinan
Kemandirian adalah kemampuan diri
untuk melakukan segala sesuatu sendiri, tanpa lagi berganntung kepada yang
lain. Dalam konteks mandiri disini ini, adalah gambaran seorang santri yang
jauh dari orang tua, yang pada biasanya makan dengan keluarga, tidur bersama
keluarga di rumah, kini harus makan, tidur, hidup dan berjuang sendiri di
pesantren. Baju dan pakaian yang biasanya dicuci oleh sang ibu, kini ia harus
mencuci sendiri. Namun ada yang lebih hebat lagi dalam hal ini, yakni kemandirian
secara mental dan psikologi sehingga ia akan lebih cepat dewasa dan paham akan
arti dari sebuah kehidupan. Ya, begitulah kemandirian yang membentuk pribadi
santri yang mengagumkan.
Selain kemandirian, para santri
juga dibekali dengan kemampuan leadership (kepemimpinan). Hal ini sangatlah
penting diberikan kepada para santri sebagai sarana latihan untuk dipersiapkan
menjadi seorang pemimpin, yang bisa berbicara di depan umum (public speaking),
mampu mempengaruhi orang dengan keilmuannya, dan dalam jangka panjang mampu
untuk membangun sebuah organisasi atau lembaga pesantren yang baru di kampung
halamannya. Salah satu keberhasilan seseorang adalah dengan adanya konsep
kepemimpinan ini. Seorang presiden dapat dikatakan pemimpin negara manakala
rakyat dan para menteri memilih dan membantunya. Seorang kiyai dikatakan
pimpinan pesantren, manakala ada santri dan ustadz di dalamnya. Jika sendirian
ia bukanlah pemimpin walaupun ia memiliki banyak keilmuan dan kemampuan. Sehingga
konsep kepemimpinan ini amatlah penting bagi seorang santri untuk dapat
menyalurkan keilmuannya dengan kepemimpinan dan kekuasaan.
5.
Cerdas dan terampil
Kunci kelima dalam membuka pintu
keberhasilan sang santri adalah kecerdasan yang meliputi tiga aspek, yakni
kecerdasan spiritual, emosional dan intelektual. Ketiga hal tersebut merupakan
kekuatan dahsyat yang harus dimiliki seorang santri atau pelajar. Tidak hanya
spiritual yang mantap, namun emosional dan intelektual juga harus selalu
terasah. Sehingga secara moralitas akan selalu terjaga, dalam pergaulan akan selalu
terawasi, dalam pemikiran dan wawasan akan yang terus berkembang, dan segala
urusannya akan selalu tertata rapi. Sesulit apapun masalah yang kerap kali
muncul dalam hidupnya, ia hadapi dengan sabar dan penuh ketegaran. Karena ia
yakin bahwa segala masalah dan musibah adalah ujian dari-Nya, dan pasti akan
ada solusi dan hikmah dibalik itu semua.
Setelah fajar tiba, maka kegelapan akan
terusir dengan sendirinya. Artinya seorang santri yang sudah menyalakan pelita
kehidupannya di dalam pesantren, yakni mengkaji berbagai keilmuan dan
pengetahuan dari kitab-kitab klasik maupun modern selama bertahun-tahun,
mengisi hari-harinya untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT,
mengamalkan segala sunah-sunah rasul-Nya, dan terus menggali potensi diri serta
mengembangkan bakat yang dimiliki. Dengan demikian, maka segala kebodohan,
kemalasan, dan kedangkalan berfikir akan hilang dengan sendirinya sehingga
menjadi pribadi yang cerdas. Selain kecerdasan, santri juga meski terampil
dalam menata masa depan hidupnya dengan berbagai pengalaman terbaik ketika
berada di pesantren. Terampil dalam mengelola waktu, memanfaatkan kesempatan
yang ada, mengatur kegiatan-kegiatan, dan lain sebagainya. Sehingga tidak ada
waktu untuk berleha-leha apalagi bermalas-malasan. Dengan begitu, ia akan
telatih untuk menjadi pribadi yang kreatif, inovatif, dan dinamis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar