Jumat, 15 November 2013

Politik Pendidikan dan Hukum Indonesia

Ceritanya pada hari ini, 15 November 2013 berlangsung kegiatan Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh pascasarjana IAIN “Sultan Maulana Hasanuddin” Banten dengan mendatangkan Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA., selaku direktur pascasarjana UIN “Syarif Hidayatullah” Jakarta, dan Prof. Dr. Khoiruddin Nasution, MA., selaku direktur pascasarjana UIN “Sunan Kalijaga” Jogjakarta. Tema pada seminar kali adalah “Kontribusi Politik Terhadap Hukum dan Pendidikan di Indonesia”. Tema ini cukup menggigit untuk dikaji dan didiskusikan.

Prof. Azra mengatakan bahwa politik sangat krusial menentukan maju mundurnya pendidikan di Indonesia ini. Berbicara masalah politik berarti berbicara tentang kekuasaan, maka orang yang sedang memegang kekuasaan tersebut akan menghijaubirukan kebijakan tentang sistem pendidikan dan perngkat-peragkat di dalamnya. Setiap pergantian mentri, dalam hal ini adalah Mentri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) dan Menteri Agama (Menag) memiliki potensi besar adanya pengaruh terhadap pendidikan  di negeri ini. Sehingga dampak politik pendidikan Indonesia terhadap pendidikan Islam tergantung pada Mendikbud, Menag, Dirjen Dikti, dan Dirjen Pendis.

Para peserta seminar yang berjumlah lebih dari 300 peserta tersebut sangat antusias menyimak penjelasan. Karena materi ini sangat berkaitan dengan nasib pendidikan kita, terutama pendidikan Islam. Prof. Azra melanjutkan materinya bahwa masih adanya perbedaan antara pendidikan Islam dan pendidikan Umum dalam pembiayaan. Contohnya dana operasional guru di sekolah umum relatif besar, sedangkan guru di madrasah sangatlah kecil. Dengan demikian, pendidikan Islam terlihat dimarginalkan padahal sebelum kemerdekaan pendidikan Islam sudah berkembang di Indonesia ini. Seharusnya pendidikan Islam lebih maju dan berkembang dengan fasilitas dan pembiayaan yang seimbang dengan umum. Hal ini tentunya bergantung pada perhatian dan konsentrasi Menag terhadap pendidikan Islam selaku pemegang kebijakan.

Politik pendidikan masa orde lama sangat dipengaruhi politik ideologis, seperti pembentukan IAIN pada tahun 1960 sebagai ‘jatah’ bagi kaum muslimin, sedangkan UGM untuk ‘golongan nasionalis’. Berbeda dengan orde lama, masa orde baru cenderung non-ideologi politik yang lebih menekankan pada  develomentalisme (pembangunan). Sehingga orba ini meninggalkan ‘warisan’ (legacy) penting pendidikan Indonesia yakni sekolah inpres dan pembentukan IAIN sepanjang akhir 1960/awal 1970 dalam penguatas Diktis. Ikhtisar awam saya mengatakan semakin jelas dan kontras, bahwa politik benar-benar berpengaruh terhadap kebijakan pendidikan di Indonesia. Oleh sebab itu, sebagai seorang akademisi pun jangan tabu dengan yang namanya politik. Karena politik bisa dijadikan sebagai alat atau strategi untuk memajukan bangsa dan negara ini dalam konteks pendidikan.

Pada kesempatan kedua, yaitu berbicara mengenai politik hukum Indonesia, yang dipaparkan oleh Prof. Khoiruddin. Beliau menjelaskan beberapa inti yang menjadi kontruksi politik hukum di Indoneisa ini, diantaranya adalah arah pembangunan hukum, dasar penetapan hukum, format dan bentuk yang dibentuk, integritas penegak hukum, dan kesadaran hukum masyarakat. Poin-poin inilah yang menjadi prolog beliau dalam mengantarakan perkembangan hukum negara, dan kemudian meluas hingga mengenai hukum di dalam keluarga. Berbicara mengenai hukum ini tentunya diawali dari keluarga, jika seorang anak berbuat salah berarti ada masalah dengan pendidikan keluarganya. Tanggung jawab pendidikan yang utama bagi seorang anak adalah keluarga, karena menurut Prof. Khaeruddin, pendidikan yang berlangsung di sekolah relatif sebentar hanya beberapa jam saja. Namun waktu yang panjang adalah ketika anak itu berada di luar sekolah, maka waktu inilah yang menjadi tanggung jawab orang tua. Oleh karena itu, keluarga memiliki pengaruh yang besar dalam membentuk kepribadian seorang anak yang baik, dalam hal ini adalah ayah dan ibunya.

Tak terasa sudah 3 jam berlalu, hingga jarum jam menunjukkan pukul 15.30, kemudian Prof. Khoiruddin mengakhiri penyampaian materinya karena beliau harus sudah di Bandara Soekarno Hatta sebelum jam 18.15 WIB. Namun, sebelum beliau meninggalkan ruangan moderator meminta waktu untuk tanya jawab sekitar 30 menit. Para peserta pun bertanya kepada kedua pemateri dengan dibuka dua sesi pertanyaan. Setelah Prof. Khoiruddin menjawab beberapa pertanyaan-pertanyaan, beliau berpamitan untuk langsung meluncur ke Bandara. Diskusipun terus berjalan antara peserta seminar dengan Prof. Azra hingga waktu penutupan.

Sekian, dan terima kasih

Korupsi Yang Membudaya


Korupsi di negeri ini nampaknya sudah membudaya dari generasi ke generasi. Para pejabat negara yang menjadi wakil rakyat sudah berani membohongi dan menghianati rakyat, padahal mereka mengatakan bahwa mereka adalah pembela kepentingan rakyat. Di manakah janji manismu yang dulu pernah terucap saat memohon-mohon dukungan kepada rakyat? Apa kau lupa? Aku tidak tahu jalan pikiranmu tega-teganya melakukan perbuatan dzolim tersebut yang sangat merugikan negara yakni korupsi. Menjadi pejabat negara memang tidak semudah dengan apa yang diucapkan. Karena dibutuhkan tiga aspek kecerdasan, yaitu kecerdasan intelektual, spiritual dan emosional. Ketiga hal ini harus seimbang dan selaras dalam sepanjang hidupnya. Jika hanya intelektual dan emosional yang kuat, namun spiritualnya lemah, maka biasanya tidak akan mampu mengendalikan nafsu untuk memanfaatkan kesempatan yang ada untuk korupsi.

Korupsi individual menjadi bahagian sejarah orde baru yang tentunya mengalami paradigma berbeda dengan era reformasi yang penuh dengan langkah pembaharuan, karenanya masyarakat sangat responsif atas buruknya penegakkan hukum di era orba tersebut. Namun pada realitasnya, praktek korupsi di era reformasi pun tidak bisa dihindarkan, kejahatan ini terus menyambar di sejumlah pejabat negara yang lebih kepada polemik korupsi kelembagaan, hingga menjamur di kalangan institusi pemerintahan, kenegaraan maupun swasta. Bangkitlah penegak hukum!!!

Oh, penegak hukum yang mana yang bangkit? Masih hangat berita benar, pada 10 Oktober 2013, mengenai tertangkaptangannya penegak hukum tertinggi di negeri ini, yang merupakan gerbang keadilan hukum di Nusantara ini telah tumbang akibat kasus korupsi pula. Ya, sebut saja Aqil Mukhtar selaku ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia yang tertangkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. Ia terjerat kasus korupsi karena menerima suap sengketa pilkada di Lebak, Banten dan daerah-daerah lainnya. Di manakah pertanggungjawabanmu Pak Aqil Mukhtar, dimana kata-kata manismu sebelum menjadi ketua MK yang igin berjuang menegakkan keadilan di Bumi Pertiwi ini, tapi malah berkhianat kepada bangsamu? Selain itu, praktek-praktek suap menyuap untuk menjadi pegawai negeri di beberapa lembaga pun sudah menjadi hal yang biasa. Apakah masyarakat tahu? Tentu tahu, karena tetangganya sendiri yang melakukannya.  Lalu dimanakah penegak hukum itu?

Tentu, harapan terakhir penegakkan hukum di negeri ini adalah KPK meskipun dalam kinerjanya masih lamban karena jumlah personil yang sedikit dan terbatas. Kita berharap saja, semoga KPK mampu memberantas praktek-praktek korupsi yang membudaya di negeri ini hingga ke akar-akarnya. Dan semua aparat penegak hukum yang lain seperti Polisi, Jaksa dan Hakim, diharapkan pula untuk turut serta dalam aksi ini. Dalam sintesa awam saya menyatakan bahwa korupsi terjadi karena begitu minimnya pengawasn dan pencegahan dari pemerintah atau aparat yang berwewenang sehingga kesempatan untuk korupsi sangat besar untuk dilakukan. Maka korupsi bisa dilawan dengan beberapa hal, diantaranya membuat sistem yang transparan dalam aparatur pemerintahan terutama anggaran, membuat aturan pencegahan dan pengawasan yang ketat terhadap para pejabat negara. Dengan demikian semoga dapat membuat mereka selalu terawasi dan tidak ada kesempatan untuk melakukan praktek-praktek korupsi atau jenis yang lainnya. 

Pendahuluan Evaluasi Non Tes


Pada kesempatan ini saya akan menyampaikan materi tentang teknik evaluasi non tes. Teknik adalah cara atau metode. Sedangkan evaluasi artinya penilaian terhadap tingkat keberhasilan siswa mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam sebuah program.[1] Tehnik evaluasi non tes berarti melaksanakan penilain dengan tidak mengunakan tes. Menurut Dr. Suharsimi Arikunto yang dikutip Mustaqim dalam buku Psikologi Pendidikan mengatakan bahwa ada tiga istilah yang sering muncul dan hampir sama dalam pemakaian sehari-hari ialah pengukuran, penilian dan evaluasi. Pertama, mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran. Pengukuran bersifat kuantitatif. Kedua, menilai adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik-buruk. Penilaian bersifat kuantitatif. Dan ketiga mengadakan evaluasi meliputi kedua langkah di atas yakni mengukur dan menilai.[2]

Penilaian terhadap proses pengajaran dilakukan oleh guru sebagai bagian integral dari pengajaran itu sendiri. Artinya, penilaian harus tidak terpisahkan dalam penyusunan dan pelaksanaan pengajaran.[3] Jadi teknik evaluasi dalam pembelajaran merupakan serangkaian kegiatan untuk menilai atau mengevaluasi proses pembelajaran secara menyeluruh yang meliputi sikap dan tingkah lagi siswa atas apa yang telah direncanakan untuk mencapai sebuah keberhasilan. Hasil pembelajaran, bisa terlihat dalam kategori sukses tidaknya yaitu melalui hasil evaluasi, sehingga menjadi barometer untuk meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan.

Dalam hal apapun, evaluasi menjadi hal yang penting dalam upaya menemukan makna. Misalkan dalam bidang ekonomi, politik, pemerintahan dan sebagainya. Begitu juga dalam dunia pendidikan, evaluasi menjadi hal yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya. Tanpa menggunakan evaluasi, seorang guru tidak dapat melihat sejauh mana pencapaian tujuan pembelajarannya, seberapa tinggi tingkat penguasaan materi ketika mengajar, metode yang digunakan, dan skill yang dimiliki untuk mendiagnosa kelemahan dan kelebihan siswanya. Sehingga dapat mempermudah dalam meningkatkan mutu pendidikan maupun mutu pembelajaran.

Menurut Fion Lim CB., konsep mutu dalam bidang pendidikan berbeda dengan industri. Perbedaannya terletak pada unsur manusiawi yang diproses sebagai hasil. Oleh karena itu, akhir penilaian mutu yaitu pada mutu lulusan. Mutu lulusan sangat beragam dan kompleks antara satu dengan lainnya dalam kelompok lulusan yang sama. Penilaian sederhana yaitu jika lulusan dapat diterima bekerja sesuai bidang keilmuannya dan/atau diterima di perguruan tinggi terkemuka bagi yang melanjutkan studi, maka lembaga pendidikan tersebut dinilai sangat bermutu.[4]

Dalam pembelajaran di kelas terdapat beberapa komponen yang meliputi perencanaan, proses, observasi dan evaluasi. Dalam penerapannya digunakan skala waktu yang telah ditentukan. Satu sama lain saling berkaitan dan menentukan hasil pembelajaran di dalam kelas. Jika masih ada kekurangan, maka kegiatan tersebut dapat diulangi kembali hingga terdapat peningkatan sesuai dengan barometer yang telah ditentukan.

Ketika kita hendak melakukan evaluasi, maka dibutuhkan teknik sebagai cara untuk mengevaluasi. Sehingga hal ini disebut dengan teknik evaluasi. Teknik evaluasi memiliki dua cara, yaitu teknik evaluasi tes dan teknik evaluasi non tes. Keduanya memiliki proses dan tata cara yang  berbeda-beda satu sama lain untuk mencapai tujuan dan barometer pencapaian dalam pembelajaran. Dengan teknik evaluasi inilah kita dapat mengetahui hasil dari pembelajaran yang telah dilakukan. Dengan demikian, ikhtisar awam saya mengatakan bahwa evaluasi non tes dalam pendidikan sangatlah penting di samping tes, dalam upaya peningkatan mutu dan hasil pembelajaran yang dilakukan dengan observasi, kuesioner, wawancara, dan lain-lainnya. 


[1] Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 2001), h. 175
[2] Mustaqim, Psikologi Pendidikan, (Jakarta : Pustaka Pelajar, 2008), h. 161
[3] Ahmad Rohani, Pengelolaan Pengajaran, (Jakarta : Rineka Cipta, 2004), h. 168
[4] Deden Makbullah, Manajemen Mutu Pendidikan Islam, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2011), h. 36-37

Selasa, 12 November 2013

Tarbiyah Hati

Pada kajian pekanan BKB NF hari ini, 13 November 2013, ustadz Ulil Albab menyuguhkan materi yang sangat menggugah hati dan jiwa yakni mengenai tarbiyah hati. Beliau mengawali tausiyahnya dengan bercerita mengenai rihlah (berpergian) yaitu berkunjung ke suatu daerah yang ditentukan dalam rangka untuk tadabur alam seraya mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pernahkah kita menyaksikan bahwa sesuatu atau peristiwa yang kita lihat dalam tempat tersebut yang begitu menakjubkan dan dahsyat, tentu itu bukanlah pekerjaan manusia, melainkan pekerjaan (ciptaan) Allah. Misalkan gunung yang menjulang tinggi, langit yang luas tak bertiang, lautan yang terhampar luas namun tak tumpah, dan masih banyak tanda-tanda kebesaran-Nya. Jika mata hati seseorang hidup, maka akan menikmati ayat-ayat Allah SWT yang berada di alam raya tersebut. Mereka akan ditunjukkan keindahan dan kecantikan untuk terus mengingat kebesaran Allah SWT.

Kemudian, beliau juga menyampaikan tentang kehidupan para sahabat bahwa mereka tidak mampu untuk meninggalkan Rasulullah, dan selalu menginginkan untuk menemaninya karena dirasa nikmat. Namun, kehidupan di dunia ini adalah tempat perpisahan, maka pasti akan dipisahkan oleh ajal. Walaupun demikian, Allah SWT memberikan kesempatan kepada para sahabat untuk menemani Rasulullah di surga-Nya. Berbicara tentang sahabat Nabi, kita mengenal sosok Abu bakar yang diberikan julukan as-Siddiq (yang membenarkan), Umar bin Khattab yang diberikan julukan al-Faruq (pembeda), Utsman bin Affan memiliki julukan Dzu nurraini (orang yang memperoleh dua cahaya) karena menikahi dua orang putri nabi SAW yakni Ruqayah dan Ummi Kultsum, dan Ali bin Abi Tholib dengan julukan Karromallahu wajhah (wajah yang dimuliakan Allah).

Begitu besar jasa para sahabat Nabi ini dalam berjuang menegakkan dakwah Islamiyah di bumi ini, dengan mengorbankan jiwa dan hartanya. Seperti Utsman yang menginfakkan hartanya di jalan Allah. Ada dua hal yang dilakukan Utsman dalam sedekah ini yakni yang pertama ia membeli sumur dan memberikannya kepada kaum muslimin, sehingga ia mengatakan kalaupun harga sumur tersebut dibeli dengan uang sepenuh sumur tersebut ia akan membelinya. Yang kedua Utsman membiayai perang tabuk dengan memberikan 1000 unta dan perbakalannya karena perjalanan ke tabuk sekitar setengah bulan. Sedangkan Abu Bakar Shiddiq menginfakkan seluruh hartanya, Umar menginfakkan setengah dari hartanya dan Ali bin Abi thalib mempersembahkan jiwanya dengan menggantikan Nabi di kamarnya pada saat nabi hijrah ke Madinah. Dan pada saat itu, Ali mengetahui bahwa Nabi akan dibunuh di kamarnya.

Kemudian Ustadz juga menyinggung materi tentang shalat, karena salah satu amalan yang dapat mentarbiyah hati adalah shalat. Shalat merupakan bekal di dunia dan di akhirat sehingga rasulullah SAW tidak pernah meninggalkannya, padahal beliau sudah dima’shum dan sudah dijamin masuk surga. Puncak kelezatan Rasulullah SAW adalah shalat. Maka kita sebagai umatnya harus mengusahakan kenikmatan shalat yang telah dilakukan oleh baginda Nabi SAW. Ada dua shalat yang pahalanya sangat besar, yakni shalat ashar dan shalat subuh. Shalat asar berjamaan seperti shalat tahajjud setengah malam, dab shalat subuh berjamaah seperti shalat tahajjud semalam suntuk. Namun bukan berarti waktu-waktu yang lain tidak wajib dilakukan, tetap wajib dilakukan. Hanya saja Allah memberikan keistimewaan pada dua waktu tersebut.

Wallahu a’lamu bishowab..

Rabu, 09 Oktober 2013

Menghidupkan Hati



Usai berolah raga (futsal) di stadion Flamingo Kepandean, 9 Oktober 2013, para pejuang BKB Nurul Fikri Banten 1 langsung menuju lokas NF Kepandean untuk mengikuti program wajib pekanan, yakni liqo (pengajian). Agenda liqo masih sekitar satu jam lagi, maka sebelum tiba jam 11.00 WIB, kami habiskan untuk beristirahat dan membuka berita atau informasi terkini via internet. Dan dilanjutkan dengan mandi dan shalat dhuha. Setelah itu, agenda yang dinanti dan ditunggu dalam sepekan telah datang mengiringi sepenggal kehidupan hari itu. Ustadz Ulul Albab sebagai penceramah pun sudah hadir di lokasi NF Kepandean untuk memberikan pencerahan kepada kami. Jarum jam sudah menunjukkan jam 11.00 WIB, ini berarti bahwa waktu liqo dimulai.

Para peserta pengajian sudah kumpul memadati ruangan 2 di lantai bawah dengan kursi-kursi yang membentuk lingkaran. Pada kesempatan ini, aku yang menjadi moderator atau pembuka acara spesial ini. Akhirnya pengajian pun dimulai dengan membaca basmalah dan dilanjutkan dengan tilawah satu persatu. Suasana pun semakin berubah seketika, saat ayat-ayat Allah SWT dibacakan secara bergantian. Berubah menjadi suasana spiritual yang penuh kedamaian, ketentraman dan kesejukan. Tatkala di antara kita membacakan tadaburnya, hati dan jiwa ini bergetar, air mata berkaca-kaca dan hembusan nafas pun terbata-bata. Subhanallah... Biarkanlah bacaan ini membasuh hati-hati kami yang sedang kering kerontang akan keimanan kepada-Nya.

Tilawah dan tadabur telah selesai di lakukan, sepintas aku membacakan kesimpulan dari tadabur ayat tersebut. Setelah itu, aku persilakan kepada Ustadz Ulil Albab untuk menyempaikan tausiyahnya kepada kami. Pengajianpun dimulai, ustadz menyampaikan materinya dengan penuh penghayatan. Materi yang begitu dahsyat dan membangkitkan semangat untuk selalu mengingat Allah SWT, bersyukur kepada-Nya, dan beramal kebaikan. Kemudian beliau menggambarkan tentang surga dan neraka secara jelas dan mendalam. Hati ini pun kembali merinding, tercengang seketika mendengar kedahsyatan siksa neraka bagi orang-orang yang ingkar kepada-Nya, dan kenikmatan surga yang tiada tara bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada-Nya. “Surga dan neraka adalah kebenaran sungguhan, sedangkan dunia ini hanyalah kebenaran yang levelnya jauh di bawahnya, karena dunia ini bersifat fatamorgana (dianggap ada, tetapi sebenarnya tiada)” ungkapnya.

Ayat-ayat yang menjadi dalil dibacakannya, hadits pun melengkapi dalail dalam penjelasan materi tersebut sehingga dapat menggugah hati dan membeningkan jiwa. Hati inipun menjadi hidup kembali dari kematian mengingat-Nya. Ingin rasanya untuk selalu bersujud dihadapan-Nya, untuk melerai segala dosa-dosa yang berlumuran di tubuh ini. Ingin rasanya untuk terus hadir dalam pertemuan seperti ini, untuk senantiasa memperbaharui keimanan terus menerus. Karena terkadang keimanan kita menurun saat berada jauh dari majlis ilmu atau dalam keadaan sendirian. Semoga dengan nasihat-nasihat dan kalimat-kalimat hikmah yang disampaikan ustadz dapat menjadi mutiara iman yang mengkristal di hati ini.

Setelah ustadz selesai menyampaikan materi, kemudian aku buka sesi tanya jawab di antara peserta agar kajian tersebut semakin mendalam dan menggigit. Karena materi yang menarik dan menggugah hati, maka sayang jika tidak dibedah lebih luas lagi sesuai dengan kebutuhan. Setelah itu, tak ketinggalan, acara kajian ini ditutup dengan doa supaya semakin sempurna dan berkah. Usai pengajian kami bergegas untuk shalat dzuhur berjamaah, karena waktu dzuhur sudah lewat sekitar 15 menit.

Di hari ini memang luar biasa. Tak hanya santapan rohani yang dihidangkan untuk para peserta pengajian, namun santapan jasmani pun juga disiapkan, yakni makan-makan. Ya, ternyata diantara pengajar NF ada yang lagi Milad (ultah), jadi sekalian masak-masak gitu untuk merayakannya. Wah, asyik amat yah! Subhanallah, begitu banyak kejutan di hari yang indah ini dan benar-benar menghidupkan suasana hati untuk terus bersyukur kepada Allah SWT. Setelah dipersilakan, tak berpikir panjang lagi langsung saja kami menyantapnya dengan penuh kegembiraan. Hanya doa yang bisa dipanjatkan semoga shohibul hajat dipanjangkan umurnya, dilapangkan rizkinya dan diberkahi hidupnya. Amin.

Selasa, 10 September 2013

Pesantren, Solusi Alternatif Pendidikan di Banten


Tradisi pensantren adalah sistem pendidikan Islam yang tumbuh sejak awal kedatangan Islam di Indonesia. Sebelum tanggal 1960, pusat-pusat pendidikan pesantren di Indonesia lebih dikenal dengan nama pondok. Istilah pondok barangkali berasal dari pengertian asrama-asrama para santri atau tempat tinggal yang dibuat dari bambu, yang dalam bahasa Arabnya berasal dari kata funduq, yang berarti hotel atau asrama. Perkataan pesantren sendiri berasal dari kata santri, yang dengan awalan pe di depan dan akhiran an yang berarti tempat tinggal para santri.

Pesantren tertua di Banten yang muncul di abad 19-20, salah satunya adalah Pesantren Citangkil, di Cilegon. Hingga saat ini, telah tumbuh dan berkembang juga pondok-pondok dan pesantren-pesantren di hampir setiap daerah di Provinsi Banten, dengan berbagai corak dan ciri khas sistem pendidikan yang bermacam-macam. Yang pertama, pesantren yang bercorak salafi atau tipe lama (kalsik) yang mengajarkan kitab-kitab Islam klasik. Walaupun sistem madrasah diterapkan, tujuannya untuk memudahkan sistem sorogan yang dipakai dalam lembaga-lembaga pengajian bentuk lama. Tipe ini tidak mengenalkan pengajaran pengetahuan umum. Misalnya pesantren At-Thohiriyah di Kota Serang, pesantren Jauharotun Naqiyah di Cibeber, Kota Cilegon, pesantren Roudhotu Tholibin di Cidahu, Pandeglang. Yang kedua, pesantren yang bercorak modern atau tipe baru dengan muatan materi yang lebih komprehenship, yaitu mendirikan sekolah-sekolah umum dan madrasah-madrasah selain juga pondok pesantren. Sehingga tipe ini dapat dikatakan gabungan antara pondok dan sekolah. Santri tidak hanya diajarkan kitab-kitab klasik, namun diajarkan juga materi umum, skill (kemampuan) berbahasa asing, dan lainnya. Misalnya pesantren Al-Mubarok dan Daar El-Istiqomah di kota Serang, pesantren Daar El-Qolam di Gintung Tangerang, Pesantren LATANSA di Lebak, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Diantara lembaga-lembaga pendidikan yang ada di Provinsi Banten, pesantren menjadi solusi alternatif pendidikan Islam yang benar-benar mendidik dan membina peserta didik untuk memiliki karakter yang Islami. Pembinaan tersebut berjalan selama 24 jam setiap harinya dengan berbagai aktifitas di dalamnya. Dalam hal ibadah, aqidah dan mu’amalah, bukan lagi hanya mengkaji secara teori, namun juga diiringi dengan upaya mempraktekkan dan pengamalannya. Namun memang suasana kehidupan di pesantren tidaklah sebebas di lembaga lainnya. Terkadang ada perasaan susah, gelisah dan kejenuhan, dan terkadang ada perasaan senang, damai, tentram dan bahagia. Raden Ahmad Djajadiningrat pun, Bupati Serang dari 1901-1917, dalam buku kenang-kenangannya tentang kehidupannya semasa kecil sewaktu mengikuti pendidikan di suatu pesantren. Ia tidak mengungkapkan sama sekali segi-segi positif kehidupan pesantren. Ia memang tinggal hanya sebentar saja di pesantren. Itu pun pada waktu umurnya masih sangat muda dan belum memahami kekuatan tradisi pesantren yang sebenarnya. Sedangkan sarjana-sarjana asal belanda seperti Van Den Berg, Hurgronje dan Geertz (sekedar menyebutkan beberapa saja), yang telah betul-betul menyadari tentang pengaruh pesantren yang sangat kuat dalam membentuk dan memelihara kehidupan sosial, kultural, politik, dan keagamaan orang-orang perdesaan di Indonesia.

Dan menurut Profesor Jhons dalam bukunya, Islamization in Sumatra, the Malay and java, mengatakan bahwa pesantren-pesantren itulah yang paling menentukan watak ke-Islaman kerajaan-kerajaan Islam, dan yang memegang peranan paling bagi penyebaran Islam sampai ke pelosok perdesaan. Dari lembaga-lembaga pesantren itu, sejumlah manuskrip pengajaran Islam di Asia Tenggara dikumpulkan oleh pengembara-pengembara pertama perusahaan-perusahaan dangang Belanda dan Inggris sejak akhir abad ke-16. Untuk dapat betul-betul memahami sejarah Islamisasi di wilayah ini, kita harus mempelajari lembaga-lembaga pesantren tersebut, karena lembaga-lembaga inilah yang menjadi anak panah penyebaran Islam di wilayah ini. Dari pernyataan tersebut jelaslah bahwa pesantren sangatlah berpengaruh dalam membentuk karakter muslim yang kuat dan menjadi pusat penyebaran agama Islam, sehingga mereka (orang-orang Barat)merasa takut akan hal itu.

Ada lima kunci keberhasilan seorang santri dalam menjalani pendidikan di pesantren, diantaranya adalah:
1.       Niat yang ikhlas
Niat adalah nahkoda amal dalam hidup ini, artinya segala perbuatan yang akan dilakukan adalah bergantung pada niatnya, jika niatnya baik maka kebaikan yang akan didapatkan. Namun jika niatnya buruk, maka keburukan pulalah yang akan didapatkan. Sebagaimana dalam sabda Nabi SAW : Sesungguhnya amal perbuatan itu disertai niat dan setiap orang mendapat balasan amal sesuai dengan niatnya.” (H.R. Bukhori dan Muslim).

Seorang santri yang sudah berada di lingkungan pesantren berarti ia sudah menjadi warga baru dalam pesantren. Rumah, keluarga, dan  kampung halaman, ia rela meninggalkan untuk beberapa tahun untuk sebuah perjuangan mencari kerdhoan-Nya. Dalam kondisi inilah dibutuhkan keikhlasan dari sang santri, untuk meninggalkan semua urusan di kampung halaman dan fokus membangun niat yang ikhlas untuk menuntut ilmu karena Allah SWT. Dan orang tua atau keluarga pula harus mengikhlaskan anak-anaknya untuk menimba ilmu di sana, dan menyerahkan semuanya kepada Allah SWT karena memang anak adalah hanya titipan dari-Nya. Maka, kiyai dan para ustadz/ustadzah yang kemudian menjadi orang tua barunya di pesantren tersebut yang tulus ikhlas menjaga, mendidik, membina dan mengarahkan masa depan mereka.

2.       Motivasi yang jelas
Pesantren merupakan laboratorium pengembangan atau tempat penggemblengan santri untuk melahirkan para kiyai dan ulama. Maka motivasi yang harus dibangun oleh seorang santri adalah untuk menjadi ulama karena Allah SWT dan berdakwah menyebarkan agama-Nya. Dan pesantren pula jelas memiliki tujuan utamanya ialah untuk mendidik calon-calon ulama. Namun ada juga para santri yang tinggal di pesantren untuk jangka waktu pendek (misalnya kurang dari satu tahun) dan tidak bercita-cita menjadi ulama, bertujuan untuk mencari pengalaman dan pendalaman perasaan keagamaan. Kebiasaan semacam ini pada umumnya dijalani menjelang dan pada bulan Ramadhan. Umat Islam pada umumnya berpuasa pada bulan ini dan merasa perlu menambah amalan-amalan ibadah, antara lain sembahyang sunnat, membaca al-Qur’an dan mengikuti pengajian.

Para santri yang tinggal sementara ini mempunyai tujuan yang tidak sama dengan para santri yang tinggal bertahun-tahun di pesantren. Mereka inilah yang ingin menguasai berbagai cabang pengetahuan Islam dan mempunyai keinginan yang kuat untuk menjadi ulama. Para santri yang bercita-cita menjadi ulama, mengembangkan keahliannya mulai upaya menguasai bahasa Arab terlebih dahulu yang dibimbing oleh seorang ustadz atau kiyai  yang mengajar sistem sorogan, dan mengkaji kitab-kitab klasik lainnya yang digolongkan ke dalam 8 kelompok jenis pengetahuan : 1. Nahwu (syntax) dan shorof (morfologi), 2. Fiqh. 3. Usul Fiqh, 4. Hadits, 5. Tafsir, 6. Tauhid, 7. Tasawuf dan Etika, dan 8. Cabang-cabang lain seperti tarikh dan balaghoh. 

3.       Karakter yang baik
Diantara karakter seorang santri adalah lemah lembut, sopan, santun, hormat dan taat terhadap guru, hormat dan taat terhadap orang tua, sabar, ikhlas, tawakkal, tawadhu, disiplin, cerdas dan masih banyak lagi karakter yang membangun pribadi Muslim yang sejati. Di dalam pesantren inilah pembinaan karakter-karakter mulia tersebut, sebagai sarana latihan bagi santri dalam menghadapi masa-masa ketika sudah berada di masyarakat kelak nanti. Berbagai sistem dan peraturan diberlakukan oleh pesantren untuk melatih kedisiplinan santri selama 24 jam dengan berbagai agenda dan kegiatan, mulai bangun tidur sampai tidur kembali.

Salah satu agenda tersebut adalah shalat berjama’ah setiap waktu baik shalat wajib maupun sunnah, tilawah al-Qur’an, ngaji kitab setiap pagi dan sore hari atau malam hari, dzikir pagi dan petang, masuk kelas/sekolah, kegiatan ektrakurikuler, keterampilan pidato (muhadhoroh), pengembangan seni dan bahasa, lomba-lomba, kegiatan hari besar Islam, serta agenda-agenda lainnya. Awal-awal barangkali ada yang merasa berat untuk melaksanakannya, namun setelah lama dan terbiasa dilakukan dalam keseharian maka lambat laun menjadi mudah dan ringan untuk diamalkan secara bersama. Dengan implementasi kegiatan-kegiatan positif tersebut dapat melahirkan ruhani atau spiritual santri yang kokoh, dan terciptanya akhlak dan karakter santri yang mulia.

4.       Kemandirian dan kepemimpinan
Kemandirian adalah kemampuan diri untuk melakukan segala sesuatu sendiri, tanpa lagi berganntung kepada yang lain. Dalam konteks mandiri disini ini, adalah gambaran seorang santri yang jauh dari orang tua, yang pada biasanya makan dengan keluarga, tidur bersama keluarga di rumah, kini harus makan, tidur, hidup dan berjuang sendiri di pesantren. Baju dan pakaian yang biasanya dicuci oleh sang ibu, kini ia harus mencuci sendiri. Namun ada yang lebih hebat lagi dalam hal ini, yakni kemandirian secara mental dan psikologi sehingga ia akan lebih cepat dewasa dan paham akan arti dari sebuah kehidupan. Ya, begitulah kemandirian yang membentuk pribadi santri yang mengagumkan.

Selain kemandirian, para santri juga dibekali dengan kemampuan leadership (kepemimpinan). Hal ini sangatlah penting diberikan kepada para santri sebagai sarana latihan untuk dipersiapkan menjadi seorang pemimpin, yang bisa berbicara di depan umum (public speaking), mampu mempengaruhi orang dengan keilmuannya, dan dalam jangka panjang mampu untuk membangun sebuah organisasi atau lembaga pesantren yang baru di kampung halamannya. Salah satu keberhasilan seseorang adalah dengan adanya konsep kepemimpinan ini. Seorang presiden dapat dikatakan pemimpin negara manakala rakyat dan para menteri memilih dan membantunya. Seorang kiyai dikatakan pimpinan pesantren, manakala ada santri dan ustadz di dalamnya. Jika sendirian ia bukanlah pemimpin walaupun ia memiliki banyak keilmuan dan kemampuan. Sehingga konsep kepemimpinan ini amatlah penting bagi seorang santri untuk dapat menyalurkan keilmuannya dengan kepemimpinan dan kekuasaan.

5.       Cerdas dan terampil
Kunci kelima dalam membuka pintu keberhasilan sang santri adalah kecerdasan yang meliputi tiga aspek, yakni kecerdasan spiritual, emosional dan intelektual. Ketiga hal tersebut merupakan kekuatan dahsyat yang harus dimiliki seorang santri atau pelajar. Tidak hanya spiritual yang mantap, namun emosional dan intelektual juga harus selalu terasah. Sehingga secara moralitas akan selalu terjaga, dalam pergaulan akan selalu terawasi, dalam pemikiran dan wawasan akan yang terus berkembang, dan segala urusannya akan selalu tertata rapi. Sesulit apapun masalah yang kerap kali muncul dalam hidupnya, ia hadapi dengan sabar dan penuh ketegaran. Karena ia yakin bahwa segala masalah dan musibah adalah ujian dari-Nya, dan pasti akan ada solusi dan hikmah dibalik itu semua.

Setelah fajar tiba, maka kegelapan akan terusir dengan sendirinya. Artinya seorang santri yang sudah menyalakan pelita kehidupannya di dalam pesantren, yakni mengkaji berbagai keilmuan dan pengetahuan dari kitab-kitab klasik maupun modern selama bertahun-tahun, mengisi hari-harinya untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT, mengamalkan segala sunah-sunah rasul-Nya, dan terus menggali potensi diri serta mengembangkan bakat yang dimiliki. Dengan demikian, maka segala kebodohan, kemalasan, dan kedangkalan berfikir akan hilang dengan sendirinya sehingga menjadi pribadi yang cerdas. Selain kecerdasan, santri juga meski terampil dalam menata masa depan hidupnya dengan berbagai pengalaman terbaik ketika berada di pesantren. Terampil dalam mengelola waktu, memanfaatkan kesempatan yang ada, mengatur kegiatan-kegiatan, dan lain sebagainya. Sehingga tidak ada waktu untuk berleha-leha apalagi bermalas-malasan. Dengan begitu, ia akan telatih untuk menjadi pribadi yang kreatif, inovatif, dan dinamis.

Sabtu, 07 September 2013

Hari Kedua Masuk di Semester Tiga

Setelah dua bulan libur, yakni bulan Juli dan Agustus dalam rangka libur semester dua dan libur lebaran digabung menjadi satu, nah kini di bulan september kembali aktif lagi perkuliahan. Namun tak terasa, seiring dengan berjalannya waktu aku sudah menginjak semester tiga di program pascasarjana IAIN “SMH” Banten. Judul tulisan ini harusnya hari pertama masuk di semester tiga, tapi karena aku tidak masuk di hari pertama karena ada pekerjaan  yang tidak bisa ditinggal akhirnya dengan berat hati meninggalkan dua mata kuliah itu. Tak mengapa lah, di hari pertama kan biasanya sosialisasi silabus dan pembagian tugas makalah atau bisa jadi hanya perkenalan, jadi belum efektif belajar! Hehe (menghibur diri).

Hari kedua ini tepatnya pada hari sabtu, 7 September 2013. Pada hari itu, semua dosen pada tiga mata kuliah bisa masuk di dalam kelas walaupun hanya menyampaikan silabus perkuliahan pada semester ini. Ada juga satu mata kuliah yang sekaligus dua dosen yang masuk, yakni Dr. Muhajir, MA., dan Dr. Wawan Mulyawan, M.Pd. keduanya adalah team teaching mata kuliah materi ajar dan pengembangan kurikulum PAI. Tanpa menunggu lama, akhirnya pak Wawan membuka perkuliahan dengan salam. Namun saat permulaan kata-kata yang disampaikan, raut mukanya terlihat sangat serius dan kaku, hingga kami dari peserta kuliah pun merasa ngeri dan takut.

Beliau sedikit memberikan kritik terhadap pemerintah dengan pernyataan yang menggetarkan suasana saat itu, yang terkait pelaksanaan pendidikan di Banten ini, dan sedikit menyampaikan prolog tentang implementasi kurikulum di sekolah-sekolah. Setelah satu menit berlalu, suasana menjadi berubah 90 derajat dari ketegangan yang mencekam menjadi humor dan menyenangkan. Satu persatu di antara kami tertawa terbahak-bahak saat beliau menyampaikan satu pernyataan yang diikuti dengan kalimat yang lucu-lucu. Haha! Ya, begitulah karakternya sebagai seorang penceramah kondang yang bisa membuat suasana berubah-ubah. Akhirnya suasana perkuliahanpun menjadi nyaman dan asik hingga diantara kami pun tak canggung untuk bertanya dan berdiskusi dengannya.

Setelah selesai satu mata kuliah, maka berganti mata kuliah kedua pada pukul 10.00 WIB. Dosen mata kuliah ini adalah Dr. Supardi, Ph.D yang mengisi tentang Evaluasi Pendidikan. Beliau membuka perkuliahan dengan menjelaskan silabus pada perkuliahan ini, sekaligus membagikan judul materi kepada mahasiswa untuk dibuat makalah sebagai bahan diskusi. Evaluasi dalam pendidikan sangatlah penting dalam menunjang peningkatan mutu dan kualitas. Saat ini kita dituntut untuk menjadi bangsa yang maju dengan pendidikan yang maju seiring dengan perkembangan zaman yang sarat dengan persaingan global. Namun disisi lain, kita harus mempertahankan ciri khas pendidikan bangsa Indonesia yang berkarakter Islami. Evaluasi pendidikan ini sangatlah luas cakupannya, bukan hanya guru yang dievaluasi, namun kurikulum, lembaga pendidikan, sarana prasarana, dan lain sebagainya pun adalah penting untuk dievaluasi. Semoga kita termasuk orang-orang yang pandai mengevaluasi segala sesuatu yang berkaitan dengan sistem pendidikan.

Usai mata kuliah kedua ini adalah shalat, istirahat dan makan yang sudah disiapkan oleh staff. Jadi ga usah beli ke luar deh, tinggal menyantap bersama teman-teman yang lain dan waktupun tidak terbuang banyak karena masih berada di lingkungan kelas. Ikhtisar awam saya mengatakan bahwa perkuliahan di pascasarjana PAI harus melakukan kajian-kajian yang mendalam terhadap permasalahan-permasalahan pendidikan Islam dalam berbagai aspeknya. Kita tahu bahwa pendidikan Islam sudah lahir sebelum kemerdekaan bangsa Indonesia, semestinya pendidikan Islam lebih maju dibandingkan dengan umum.

Jumat, 07 Juni 2013

Metamorfosis HIMAWAR


Waringinkurung, segenap pengurus Himpunan Mahasiswa Waringinkurung (HIMAWAR) telah menyelenggarakan kegiatan pelantikan, upgrading dan raker pada hari sabtu, 20/04/2013. Kegiatan tersebut merupakan langkah kegiatan awal setelah terpilihnya ketua umum baru, Haerul Umam untuk kepengurusan periode 2013-2015, menggantikan Nidi Sarmidzi pada kepengurusan lama periode 2009-2013. Kegiatan ini, mendapatkan respon dan dukungan yang cukup besar dari masyarakat Waringinkurung. Hal itu ditandai dengan hadirnya sejumlah elemen penting yang ada di Waringinkurung. Diantaranya dengan hadirnya ust. Alwi Salwi, S.Ag., sebagai salah satu dewan penasehat HIMAWAR, H. Muhsinin, SE., selaku anggota DPRD kabupaten Serang, dan hadir juga perwakilan dari Kapolsek dan Dandramil kecamatan Waringinkurung. Dan tak ketinggalan juga dengan kedatangan sastrawan mancanegara dari Waringinkurung, yakni Rahmat Heldy, M.Pd., yang dalam kesempatan itu menjadi pemateri dalam upgrading yang memberikan banyak inspirasi dan motivasi dahsyat kepada segenap mahasiswa Waringinkurung dengan tema : Membangun Paradigma Mahasiswa Yang Teoritis Dan Aplikatif Dalam Menyongsong HIMAWAR Jaya.

Prosesi kegiatan tersebut akan melegenda dalam sejarah perjuangan HIMAWAR dan menjadi catatan sejaran kebangkitan dan pembaharuan gerakan kemahasiswaan yang ada di Waringinkurung. Dan HIMAWAR ini akan terus bermetamorfosis menjadi organisasi yang memiliki kredibilitas dan dedikasi tinggi sehingga benar-benar dapat diperhitungkan keberadaannya. “Biarkan HIMAWAR ini bermetamorfosis dari kepongpong menjadi kupu-kupu yang akan menghiasi bumi Waringinkurung dengan karya nyata dari tangan kreatif mahasiswa Waringinkurung”  kata Nidi saat memberikan sambutan selaku ketua demisioner HIMAWAR. “Organisasi ini terlahir bukan hanya untuk sekedar kumpul-kumpul saja, atau kumpul-kumpul sekedarnya, namun ia memiliki tujuan dan visi besar untuk membawa perubahan di Waringinkurung dalam pendidikan, politik dan kebudayaan, dan menjadi organisasi yang selalu menjaga indepensi” imbuhnya.

Senada dengan hal itu, Rahmat Heldy juga menyampaikan bahwa seorang mahasiswa harus memiliki paradigma berfikir untuk mencerdaskan internal dan masyarakat. “Di HIMAWAR ini bukan hanya untuk kumpul-kumpulan saja, melainkan ada misi untuk mencerdaskan internal dan masyarakat melalui teori-teori yang di dapat dari berbagai kampus dalam bidang yang berbeda-beda” ungkapnya dengan nada suara yang lantang dan membahana. “Maka dibutuhkan kegiatan yang dapat mengembangkan kecerdasan tersebut melalui diskusi-diskusi baik untuk internal ataupun untuk umum dengan mengundang berbagai tokoh ataupun para calon yang akan maju di legislatif” ia menambahkan yang juga disampaikan dengan motivasi yang tinggi.

Metamorfosis HIMAWAR semakin terlihat kontras dengan hadirnya para generasi baru mahasiswa Waringinkurung yang menjadi ruh baru dalam perjuangan ini. Mereka terus mempersiapkan nafas panjang untuk menghadapi segala tantangan dan rintangan yang menghadang. Selepas acara upgrading yang diikuti dengan diskusi dan tanya jawab, kemudian dilanjutkan dengan raker. Haerul umam, selaku ketua umum yang baru menjadi pemandu jalannya agenda rapat kerja tersebut. Yang membahas atau mengkaji tentang program kerja HIMAWAR ke depan yang strategis dan dinamis untuk mewujudkan cita-cita di atas. Semoga HIMAWAR terus selalu jaya dan memberikan keharuman untuk masyarakat Waringinkurung laksana bunga mawar yang harum mewangi di sepanjang hari. Semakin mekar, maka semakin indah dipandang mata. Begitu pula HIMAWAR yang akan menjadi kebanggaan bagi mahasiswa dan masyarakat Waringinkurung. Selamat berjuang wahai generasi pembaharu di bumi pertiwi waringin tercinta! Hidup mahasiswa....!!!!!

Minggu, 19 Mei 2013

Sang Penghibur

Segala puji hanya milik Allah SWT.. Kata itulah yang sering kali kita ucapkan, di manapun dan pada situasi apapun kita berada, dan takkan pernah mampu mengingkari hati sanubari kita atas nikmat, anugerah, dan seluruh fasilitas hidup yang tak terhitung lagi banyak dan bentuknya yang selalu saja mengiringi di setiap hembusan nafas dan detak jantung ini, Allah berikan kapada seluruh hamba-Nya segala hal, yang tidak akan pernah bisa terhitung oleh otak manusia yang sangat terbatas ini. Atas Rahman dan Rahim-Nyalah kita bisa hidup di dunia ini sehingga setiap jiwa merasakan keindahan dan kenikmatan hidup yang penuh limpahan kasih dan sayang. Kau jadikan raga ini dengan sempurna, otak bisa berfikir dengan akal, hati mampu merasakan getaran jiwa, mata  dapat melihat, telinga mampu mendengar, kaki melangkah tanpa kenal lelah, tangan yang kuat, dan masih banyak organ tubuh yang Allah ciptakan. Sungguh Kau adalah Sang Penghibur hatiku, limpahan rahmat dan hidayah-Mu menambah kedekatanku pada-Mu. 

Tapi terkadang kami tidak sadar akan hal itu, menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, kenyataan yang ada tidak sesuai dengan semestinya. Mata yang indah ini terkadang kita kotori dengan debu-debu kemaksiatan, hati yang suci ini juga kita nodai dengan gumpalan tinta hitam kejahatan, akal yang sehat ini kita sakiti dengan kelalaian mengingat-Mu. Ampuni kami ya Allah.. kini ku bertobat pada-Mu.. Terimalah simpuh sujudku ini, hiasilah taman-taman hati yang kering kerontang akan iman kepada-Mu, kan ku basahi selalu bibir ini dengan dzikir mengingat-Mu, bimbinglah selalu dalam setiap langkah kehidupan kami yang penuh onak dan duri ini, kuatkanlah kami dari segala halang rintang yang membentang dalam samudera kehidupan sesaat ini. Lindungilah kami dari segala tipu daya dunia, demi menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat kelak…

Jumat, 03 Mei 2013

Merangkai Do'a

Hidup dan kehidupan manusia adalah hanya sebuah babak sandiwara dalam panggung pertunjukan. Singkat dan hanya sementara waktu dalam sepanjang perjalanannya di dunia ini. Nasib dan arah perjuangannya merupakan hal yang masih misteri karena kelemahan dan keterbatasan. Masa depan yang diharapkan merupakan daya khayalan dan hanya meraba-raba saja. Adapun yang menentukan adalah dalang, Sang Mahakuasa. Manusia tidak bisa hidup dengan sendirinya, melainkan akan terus membutuhkan kepada Sang Mahapencipta, akan selalu menggantungkan hidupnya kepada Sang Mahaperkasa. Dialah Allah SWT yang menggenggam alam semesta dan mengatur seluruh yang ada di dalamnya. Tanpa-Nya, manusia tidak ada apa-apanya, bahkan bukan apa-apa dalam dunia ini. Karena yang menghidupkan, yang mematikan, yang memberi rizki dan yang memberi kebahagiaan dan kesengsaraan adalah kuasa-Nya.

Sebagai makhluk yang lemah dan selalu membutuhkan karunia dan bimbingan-Nya dalam meniti kehidupan di dunia yang fana ini, maka jangan sampai pernah hati ini mengabaikan untuk senantiasa meminta atau memohon segala keinginan dan kebutuhan hidup. Sesungguhnya paket kehidupan sudah dipersiapkan untuk manusia. Lantas berapa kali kita meminta kepada-Nya, ataukah kita tidak yakin akan janji-Nya, atau bahkan kita salah meminta dengan meohon sesuatu kepada yang selain-Nya? Na'udzubillah mindzalik. Allahlah tempat meminta, Allahlah tempat bersandar, dan Allahlah segala-galanya dalam hidup kita. Ustadz Yusuf Mansur mengatakan "Allah dulu, Allah lagi, dan Allah terus". Saat kita dalam kondisi diberikan anugerah berupa kenikmatan dan kebahagiaan, maka berdzikir dengan bersyukur pada-Nya. Di kala bencana dan musibah tengah datang melanda, maka tetaplah berdzikir seraya bersabar pada-Nya.

Kenikmatan itu bukan terletak pada nilai materi yang tampak di hadapan mata kita, atau sesuatu hal yang kita cintai dan harapkan sudah berada di tangan kita. Tapi kenikmatan itu terletak di dalam hati kita ketika senantiasa berdzikir kepada-Nya. Kenikmatan itu berada saat do'a-do'a selalu terangkai tanpa ada putus kepada-Nya. Do'a itulah yang membuat hati ini selalu menggantung dan mengikat kepada-Nya. Dan do'a inilah yang menjadi kekuatan dan pusaka kaum muslimin dalam sepanjang hidupnya. Berdoa'lah!

Wallahu a'lam..

Segudang Cinta Untuk HIMAWAR


Telah tergerak jiwa ini untuk mempersembahkan sebuah cinta untuk menggapai segala cita-cita dalam narasi perjuangan bersama HIMAWAR (Himpunan Mahasiswa Waringinkurung). Ada angin, ada hujan, bahkan ada terik panas yang membakar kulit selalu menjadi iklim perjuangan ini. Dari situlah pintu-pintu pengorbanan akan terbuka hingga mengantarkan jiwa dan raga untuk terus belajar pada kehidupan yang penuh dengan tantangan dan rintangan. Organisasi kemahasiswaan yang berada di Waringinkurung ini merupakan institusi kebanggaan mahasiswa Waringinkurung, sebagai wadah penghimpun dari mozaik-mozaik para pejuang intelektual muda yang berserakan. Bersatu padu, seiya dan sekata dalam satu barisan yang kokoh untuk menggagas sebuah perubahan dan pembaharuan yang signifikan untuk dirinya beserta masyarakat secara umum.

Terpaan angin kencang tak menggetarkan hati untuk jatuh dan turun dari pohon yang bersar itu, justru ketika ada angin sepoi-sepoi terkadang membuat kita lalai dalam kenyamanan yang menyebabkan mudah untuk terjatuh. Semakin besar pohon, maka semakin besar pula angin yang berhembus menerpanya. Begitulah alam mengajarkan kepada kita tentang satu hukum kehidupan yang memiliki arti bahwa seorang yang ingin menjadi besar, maka harus siap menghadapi segala terpaan problematika kehidupan yang berhembus menyapanya. Besarnya badai di laut bebas bukan penghalang bagi sang pelaut sejati untuk berhenti melanjutkan perjuangannya, melainkan terus memperkuat diri dan meyakinkan hati untuk mampu menghadapi segala rintangan yang menghadang. Hujan dan panas adalah dua sisi cuaca yang saling bertentangan, ketika cuaca panas maka biasanya hujan tak berani untuk turun. Namun jika cuaca mendung maka akan berpotensi besar untuk  turunnya hujan. Namun, bagi para pejuang sejati tak pernah layu meski panas menyongsongnya, dan ia tak kenal umes kala hujan mengguyurnya.

Cerita metaforis di atas merupakan gambaran akan kisah perjuangan nyata para pejuang generasa pertama kepengurusan HIMAWAR meski badai ujian acapkali datang menyapa tak membuatnya surut untuk terus maju ke depan. Tak begitu banyak memang agenda yang telah ditunaikannya, hanya saja merupakan langkah-langkah awal dalam  upaya menjadikannya sebagai proses pembelajaran untuk mewujudkan pribadi pemimpin bangsa  yang memiliki dedikasi tinggi dan mulia. Tak peduli hujan lebat yang membasahi bumi, tak menganggap besar badai angin menerpanya, juga tak pernah berteduh dari keadaan cuaca panas sekalipun. Demikianlah kekuatan cinta yang telah terpatri dalam diri untuk memacu sang penggiat perjuangan untuk merajut persatuan dan pembaharuan. Gudang cinta, menjadi stok modal dalam menghembuskan nafas perjuangan bersama HIMAWAR yang takkan pernah habis hingga takdir memisahkannya.

Beginilah seharusnya, cinta...

Kamis, 02 Mei 2013

Pilkades Melati

Waringinkurung, pesta demokrasi (Pilkades) di desa Melati kecamatan Waringinkurung Serang-Banten telah usai dilaksanakan pada hari Minggu (28/04/2013) di halaman depan SDN Nagreg Melati. Sebuah agenda penting dalam rangka menentukan dan memilih wajah baru pemimpin di Desa tersebut oleh seluruh masyarakat yang sudah memiliki hak suara. Dalam pelaksanaannya, acara yang menghadirkan hampir seluruh warga Melati ini terlihat aman dan tertib sesuai dengan harapan. 

Tanpa ada kendala yang berarti hingga berakhirnya penghitungan. Sebagaimana yang disampaikan oleh Camat Waringinkurung, Drs. Ajat Sudrajat, M.Si. di dalam sambutannya agar masyarakat tetap menjaga keamanan dan kondusifitas oleh seluruh masyarakat. “Mari kita sama-sama sukseskan acara ini dengan selalu menjaga keamanan dan kondusifitas oleh seluruh masyarakat desa Melati” ungkapnya dihadapan seluruh warga. “Dan silahkan memilih calon pemimpin yang terbaik tanpa ada paksaan dari pihak manapun. Ingat, memilihnya hanya 5 menit, tapi terasanya selama 6 tahun ke depan” imbuhnya.

Pada pukul 10.00 WIB, para warga semakin berdatangan hingga memadati jalan utama dan samping kiri dan kanan lapangan yang luas itu. Para pedagangpun terus berdatangan ikut serta dalam meramaikan acara yang spektakuler ini, namun cukup menegangkan bagi para calon yang duduk manis di panggung depan. Para calon tersebut adalah Halusi, yang bernomor urut 1 dengan warna bendera biru, Muhtini, yang bernomor urut 2 dengan warna bendera kuning, Mahmudi, S.Kom., yang bernomor urut 3 dengan warna bendera merah, Saifuddin, yang bernomor urut 4 dengan warna bendera hijau dan merupakan incumbent pada pencalonan ini.

Pertarungan hebat keempat calon tersebut dalam bentuk penghimpunan suara terbanyak dari warga, tidak sampai menimbulkan kisruh atau kerusuhan, sehingga berjalan lancar dan tanpa kendala yang berarti sampai tiba waktu penghitungan. Detik-detik sebelum penghitungan selesai, suasana semakin menegang hingga waktu menunjukkan pukul 14.30 WIB. Walhasil, perolehan suara terbanyak pada Pilkades untuk periode 2013-2019 ini jatuh pada Halusi, yang memperoleh 638 suara. Sedangkan yang menempati posisi kedua adalah Saifudin, 332 suara, posisi ketiga ditempat Muhtini, 323 suara, dan yang posisi terakhir ditempat Mahmudi, 176 suara. Dengan demikian, kemenangan diraih oleh Halusi, dengan nomor urut 1 yang merupakan usungan dari kampung Gurait untuk Melati seluruhnya.

Sesudah berakhirnya pengumuman hasil pilkades tersebut, satu persatu warga mulai meninggalkan lokasi pemilihan. Keamanan dan ketertiban masih terlihat di kerumunan orang hingga sore menjelang. Ketua pelaksana pilkades, H. Lily merasa senang kendati tidak ada hal-hal yang mengganggu jalannya acara ini. “Al-hamdulillah, acara ini berjalan dengan aman, tanpa ada hal-hal yang mengganggu jalannya acara ini” Ungkapnya saat ditemui di Kp. Gurait. “Hal ini, karena Desa Melati banyak orang berpendidikan yang mudah untuk diarahkan, dan yang terpenting mereka tidak menginginkan untuk berbuat hal-hal yang merugikan bersama” imbuhnya sambil tersenyum simpul. Semoga dengan munculnya sosok muda untuk kepemimpinan Melati ini dapat membawa perubahan yang signifikan untuk kemajuan desa.