Bila ku ingat masa-masa yang lalu, tak pernah ku rasakan keindahan hidup seindah hari-hari ini. Memang banyak kenangan berharga saat itu, tapi tak sebahagia hari-hari ini. Walaupun terkadang ingin kembali ke masa itu, tapi tetap ku ingin lanjutkan hari-hari ini. Namun, walaupun demikian kita harus senantiasa sadar bahwa masa yang lalu yang telah dilalui, hingga hari ini yang tengah dijalani adalah merupakan bagian dari rangkaian hidup untuk mencapai kesuksesan hakiki menuju esok hari nanti yang lebih baik. Karena sejatinya kebahagiaan seseorang betul-betul diperoleh dari kesulitan-kesulitan terlebih dahulu, kesuksesan seseorang ditemukan setelah gagal berpuluh-puluh bahkan ratusan kali, tapi mereka tetap tegar dan istiqomah menjalaninya. Sebagaimana dalam pepatah bilang “berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu lalu senang kemudian”.
Namun jika ia lelah dan tidak ingin terus bertahan, maka ia tidak akan mendapatkan kesenangan itu dan ia juga adalah seorang pecundang. Kebahagiaanku hari-hari ini berawal dari perjumpaanku dengan LDK “Ummul Fikroh” di kampus IAIN “SMH” Banten kala ini. Kehadirannya mampu menyulap kepribadianku menjadi insan Rabbani, generasi Qur’ani dan juga dapat mempertemukanku dengan teman-teman yang lainnya dalam barisan yang satu yakni ukhuwah Islamiyah. Kehadirannya juga mampu menghidupkan ruh-ruh baru dalam diri ini, hingga dapat meluluh lantakan segala bentuk kekhilafan, kemalasan, ketidaktahuan yang ada pada separuh jiwa yang lalu. LDK memang bukanlah makhluk hidup layaknya kita manusia, akan tetapi LDK adalah sebuah lembaga yang di dalamnya terdapat mesin-mesin canggih yang digerakan oleh Aktivis Dakwah Kampus dari generasi ke generasi, yang mengajarkan tentang perjalanan hidup yang lebih berarti dan bermakna di bawah naungan al-Qur’an dan al-Hadits. Hari demi hari kita lewati bersama dalam nuansa Islami yang dapat menyejukkan suasana hatiku di tengah panasnya era modern yang syarat dengan keangkuhan dan kesombongan manusia dewasa ini.
LDK juga membimbingku tentang bagaimana menjaga keagungan sentuhan cinta yang telah dianugerahkan Sang Maha Pencipta kepada umat manusia. Siapapun yang mendapatkannya akan terpancarkan cahaya kebenaran dalam hatinya. Cinta yang pertama adalah cinta kepada Allah SWT sebagai sang Maha Pencipta alam raya ini beserta isinya, termasuk diri kita. LDK telah mengenalkan kepadaku untuk mengisi hari-hari kita untuk senantiasa membaca Al-Qur’an, mentadaburinya serta memahaminya dengan baik. Hal ini merupakan resep dasar untuk menumbuhkan kecintaan kita kepada Allah SWT dengan ayat cinta-Nya yang bisa menggetarkan jiwa seseorang yang bertaqwa. Kemudian LDK juga selalu mendorongku untuk berada di shof terdepan dalam shalat-shalat kita. Shalat-shalat yang kita dirikan baik itu shalat wajib maupun shalat sunnah adalah langkah konkrit kita untuk berusaha mendekatkan diri ke haribaan-Nya. Dan LDK juga senantiasa membimbingku untuk bergaul dan berkumpul dengan orang-orang shaleh untuk mengambil hikmah dan ilmu dari mereka sebagai upaya meningkatkan keimanan kepada-Nya serta membiasakan kita untuk selalu berdzikir di pagi dan petang dan menanamkan nama-nama dan sifat-sifat Allah SWT dalam hati kita. Dengan demikian hati kita akan senantiasa teduh di bawah naungan-Nya. Cinta yang kedua adalah cinta kepada Rasulullah SAW.
Selain cinta kepada Allah, LDK juga mengenalkanku bagaimana mencintai Rosulullah. Hal ini dibuktikan dengan senantiasa meneladani dan mengamalkan sunnahnya dalam kehidupan sehari-hari kita, mulai dari Fi’liyah, Qouliyhnya, ataupun Taqririyah. LDK juga mengingaktkanku untuk selalu menyampaikan shalawat dan salam kepada rasulullah, karena atas jasanya, perjuangannya, dan pengorbanannya hingga tersebarnya agama Islam ini di hadapan kita semua. Dan LDK juga sering melatihku untuk belajar menyampaikan nasihat kepada hamba-hamba yang lain untuk beriman kepada Allah SWT, kitab-Nya dan Rasul-Nya. Karena kita sebagai umatnya wajib untuk menyambung dan melanjutkan perjuangan beliau dalam mngajak dan memperingatkan umat manusia untuk kembali ke syari’at Islam. Cinta yang ketiga adalah cinta kepada kedua orang tua kita. Ingatlah saudaraku bahwa merekalah yang telah membesarkan kita hingga saat ini. Mereka selalu memperhatikan semua kebutuhan kita, dari sejak buaian hingga kita beranjak dewasa. Apakah kita ingat saat-saat indah bersamanya dalam dekapan kasih dan sayangnya, suka dan dukanya, tawa dan tangisnya, kebahagiaan dan jeritannya dan banyak lagi yang ia laukukan untuk kita tercinta. Tak ada yang mampu menandingi kecintaan orang tua kepada anaknya hingga ia rela berkorban dan berjuang tanpa pamrih dan tak kenal lelah.
Maka pantaslah Allah SWT menempatkan surga ditelapak kaki Ibu kita karena kemuliaan dan keagungan apa yang ia lakukan. Namun, jika kita lalai sedikit saja dan jauh daripada kecintaan kita kepada ibu kita, maka harga mati untuk kita terseret dalam jilatan api neraka yang teramat panas dan dahsyat. Al-Hamdulillah di LDK ini, kita senantiasa diingatkan untuk terus berbakti dan menjadi anak shaleh yang selalu mendoakannya hingga datang hari pembalasan kelak nanti. Semua ini kita laukukan hanya untuk mengharap ampunan dan lindungan dari Allah SWT. Dan semoga akan mendatangkan kebahagiaan hakiki di dunia dan di negeri akhirat kelak nanti.