Selasa, 10 September 2013

Pesantren, Solusi Alternatif Pendidikan di Banten


Tradisi pensantren adalah sistem pendidikan Islam yang tumbuh sejak awal kedatangan Islam di Indonesia. Sebelum tanggal 1960, pusat-pusat pendidikan pesantren di Indonesia lebih dikenal dengan nama pondok. Istilah pondok barangkali berasal dari pengertian asrama-asrama para santri atau tempat tinggal yang dibuat dari bambu, yang dalam bahasa Arabnya berasal dari kata funduq, yang berarti hotel atau asrama. Perkataan pesantren sendiri berasal dari kata santri, yang dengan awalan pe di depan dan akhiran an yang berarti tempat tinggal para santri.

Pesantren tertua di Banten yang muncul di abad 19-20, salah satunya adalah Pesantren Citangkil, di Cilegon. Hingga saat ini, telah tumbuh dan berkembang juga pondok-pondok dan pesantren-pesantren di hampir setiap daerah di Provinsi Banten, dengan berbagai corak dan ciri khas sistem pendidikan yang bermacam-macam. Yang pertama, pesantren yang bercorak salafi atau tipe lama (kalsik) yang mengajarkan kitab-kitab Islam klasik. Walaupun sistem madrasah diterapkan, tujuannya untuk memudahkan sistem sorogan yang dipakai dalam lembaga-lembaga pengajian bentuk lama. Tipe ini tidak mengenalkan pengajaran pengetahuan umum. Misalnya pesantren At-Thohiriyah di Kota Serang, pesantren Jauharotun Naqiyah di Cibeber, Kota Cilegon, pesantren Roudhotu Tholibin di Cidahu, Pandeglang. Yang kedua, pesantren yang bercorak modern atau tipe baru dengan muatan materi yang lebih komprehenship, yaitu mendirikan sekolah-sekolah umum dan madrasah-madrasah selain juga pondok pesantren. Sehingga tipe ini dapat dikatakan gabungan antara pondok dan sekolah. Santri tidak hanya diajarkan kitab-kitab klasik, namun diajarkan juga materi umum, skill (kemampuan) berbahasa asing, dan lainnya. Misalnya pesantren Al-Mubarok dan Daar El-Istiqomah di kota Serang, pesantren Daar El-Qolam di Gintung Tangerang, Pesantren LATANSA di Lebak, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Diantara lembaga-lembaga pendidikan yang ada di Provinsi Banten, pesantren menjadi solusi alternatif pendidikan Islam yang benar-benar mendidik dan membina peserta didik untuk memiliki karakter yang Islami. Pembinaan tersebut berjalan selama 24 jam setiap harinya dengan berbagai aktifitas di dalamnya. Dalam hal ibadah, aqidah dan mu’amalah, bukan lagi hanya mengkaji secara teori, namun juga diiringi dengan upaya mempraktekkan dan pengamalannya. Namun memang suasana kehidupan di pesantren tidaklah sebebas di lembaga lainnya. Terkadang ada perasaan susah, gelisah dan kejenuhan, dan terkadang ada perasaan senang, damai, tentram dan bahagia. Raden Ahmad Djajadiningrat pun, Bupati Serang dari 1901-1917, dalam buku kenang-kenangannya tentang kehidupannya semasa kecil sewaktu mengikuti pendidikan di suatu pesantren. Ia tidak mengungkapkan sama sekali segi-segi positif kehidupan pesantren. Ia memang tinggal hanya sebentar saja di pesantren. Itu pun pada waktu umurnya masih sangat muda dan belum memahami kekuatan tradisi pesantren yang sebenarnya. Sedangkan sarjana-sarjana asal belanda seperti Van Den Berg, Hurgronje dan Geertz (sekedar menyebutkan beberapa saja), yang telah betul-betul menyadari tentang pengaruh pesantren yang sangat kuat dalam membentuk dan memelihara kehidupan sosial, kultural, politik, dan keagamaan orang-orang perdesaan di Indonesia.

Dan menurut Profesor Jhons dalam bukunya, Islamization in Sumatra, the Malay and java, mengatakan bahwa pesantren-pesantren itulah yang paling menentukan watak ke-Islaman kerajaan-kerajaan Islam, dan yang memegang peranan paling bagi penyebaran Islam sampai ke pelosok perdesaan. Dari lembaga-lembaga pesantren itu, sejumlah manuskrip pengajaran Islam di Asia Tenggara dikumpulkan oleh pengembara-pengembara pertama perusahaan-perusahaan dangang Belanda dan Inggris sejak akhir abad ke-16. Untuk dapat betul-betul memahami sejarah Islamisasi di wilayah ini, kita harus mempelajari lembaga-lembaga pesantren tersebut, karena lembaga-lembaga inilah yang menjadi anak panah penyebaran Islam di wilayah ini. Dari pernyataan tersebut jelaslah bahwa pesantren sangatlah berpengaruh dalam membentuk karakter muslim yang kuat dan menjadi pusat penyebaran agama Islam, sehingga mereka (orang-orang Barat)merasa takut akan hal itu.

Ada lima kunci keberhasilan seorang santri dalam menjalani pendidikan di pesantren, diantaranya adalah:
1.       Niat yang ikhlas
Niat adalah nahkoda amal dalam hidup ini, artinya segala perbuatan yang akan dilakukan adalah bergantung pada niatnya, jika niatnya baik maka kebaikan yang akan didapatkan. Namun jika niatnya buruk, maka keburukan pulalah yang akan didapatkan. Sebagaimana dalam sabda Nabi SAW : Sesungguhnya amal perbuatan itu disertai niat dan setiap orang mendapat balasan amal sesuai dengan niatnya.” (H.R. Bukhori dan Muslim).

Seorang santri yang sudah berada di lingkungan pesantren berarti ia sudah menjadi warga baru dalam pesantren. Rumah, keluarga, dan  kampung halaman, ia rela meninggalkan untuk beberapa tahun untuk sebuah perjuangan mencari kerdhoan-Nya. Dalam kondisi inilah dibutuhkan keikhlasan dari sang santri, untuk meninggalkan semua urusan di kampung halaman dan fokus membangun niat yang ikhlas untuk menuntut ilmu karena Allah SWT. Dan orang tua atau keluarga pula harus mengikhlaskan anak-anaknya untuk menimba ilmu di sana, dan menyerahkan semuanya kepada Allah SWT karena memang anak adalah hanya titipan dari-Nya. Maka, kiyai dan para ustadz/ustadzah yang kemudian menjadi orang tua barunya di pesantren tersebut yang tulus ikhlas menjaga, mendidik, membina dan mengarahkan masa depan mereka.

2.       Motivasi yang jelas
Pesantren merupakan laboratorium pengembangan atau tempat penggemblengan santri untuk melahirkan para kiyai dan ulama. Maka motivasi yang harus dibangun oleh seorang santri adalah untuk menjadi ulama karena Allah SWT dan berdakwah menyebarkan agama-Nya. Dan pesantren pula jelas memiliki tujuan utamanya ialah untuk mendidik calon-calon ulama. Namun ada juga para santri yang tinggal di pesantren untuk jangka waktu pendek (misalnya kurang dari satu tahun) dan tidak bercita-cita menjadi ulama, bertujuan untuk mencari pengalaman dan pendalaman perasaan keagamaan. Kebiasaan semacam ini pada umumnya dijalani menjelang dan pada bulan Ramadhan. Umat Islam pada umumnya berpuasa pada bulan ini dan merasa perlu menambah amalan-amalan ibadah, antara lain sembahyang sunnat, membaca al-Qur’an dan mengikuti pengajian.

Para santri yang tinggal sementara ini mempunyai tujuan yang tidak sama dengan para santri yang tinggal bertahun-tahun di pesantren. Mereka inilah yang ingin menguasai berbagai cabang pengetahuan Islam dan mempunyai keinginan yang kuat untuk menjadi ulama. Para santri yang bercita-cita menjadi ulama, mengembangkan keahliannya mulai upaya menguasai bahasa Arab terlebih dahulu yang dibimbing oleh seorang ustadz atau kiyai  yang mengajar sistem sorogan, dan mengkaji kitab-kitab klasik lainnya yang digolongkan ke dalam 8 kelompok jenis pengetahuan : 1. Nahwu (syntax) dan shorof (morfologi), 2. Fiqh. 3. Usul Fiqh, 4. Hadits, 5. Tafsir, 6. Tauhid, 7. Tasawuf dan Etika, dan 8. Cabang-cabang lain seperti tarikh dan balaghoh. 

3.       Karakter yang baik
Diantara karakter seorang santri adalah lemah lembut, sopan, santun, hormat dan taat terhadap guru, hormat dan taat terhadap orang tua, sabar, ikhlas, tawakkal, tawadhu, disiplin, cerdas dan masih banyak lagi karakter yang membangun pribadi Muslim yang sejati. Di dalam pesantren inilah pembinaan karakter-karakter mulia tersebut, sebagai sarana latihan bagi santri dalam menghadapi masa-masa ketika sudah berada di masyarakat kelak nanti. Berbagai sistem dan peraturan diberlakukan oleh pesantren untuk melatih kedisiplinan santri selama 24 jam dengan berbagai agenda dan kegiatan, mulai bangun tidur sampai tidur kembali.

Salah satu agenda tersebut adalah shalat berjama’ah setiap waktu baik shalat wajib maupun sunnah, tilawah al-Qur’an, ngaji kitab setiap pagi dan sore hari atau malam hari, dzikir pagi dan petang, masuk kelas/sekolah, kegiatan ektrakurikuler, keterampilan pidato (muhadhoroh), pengembangan seni dan bahasa, lomba-lomba, kegiatan hari besar Islam, serta agenda-agenda lainnya. Awal-awal barangkali ada yang merasa berat untuk melaksanakannya, namun setelah lama dan terbiasa dilakukan dalam keseharian maka lambat laun menjadi mudah dan ringan untuk diamalkan secara bersama. Dengan implementasi kegiatan-kegiatan positif tersebut dapat melahirkan ruhani atau spiritual santri yang kokoh, dan terciptanya akhlak dan karakter santri yang mulia.

4.       Kemandirian dan kepemimpinan
Kemandirian adalah kemampuan diri untuk melakukan segala sesuatu sendiri, tanpa lagi berganntung kepada yang lain. Dalam konteks mandiri disini ini, adalah gambaran seorang santri yang jauh dari orang tua, yang pada biasanya makan dengan keluarga, tidur bersama keluarga di rumah, kini harus makan, tidur, hidup dan berjuang sendiri di pesantren. Baju dan pakaian yang biasanya dicuci oleh sang ibu, kini ia harus mencuci sendiri. Namun ada yang lebih hebat lagi dalam hal ini, yakni kemandirian secara mental dan psikologi sehingga ia akan lebih cepat dewasa dan paham akan arti dari sebuah kehidupan. Ya, begitulah kemandirian yang membentuk pribadi santri yang mengagumkan.

Selain kemandirian, para santri juga dibekali dengan kemampuan leadership (kepemimpinan). Hal ini sangatlah penting diberikan kepada para santri sebagai sarana latihan untuk dipersiapkan menjadi seorang pemimpin, yang bisa berbicara di depan umum (public speaking), mampu mempengaruhi orang dengan keilmuannya, dan dalam jangka panjang mampu untuk membangun sebuah organisasi atau lembaga pesantren yang baru di kampung halamannya. Salah satu keberhasilan seseorang adalah dengan adanya konsep kepemimpinan ini. Seorang presiden dapat dikatakan pemimpin negara manakala rakyat dan para menteri memilih dan membantunya. Seorang kiyai dikatakan pimpinan pesantren, manakala ada santri dan ustadz di dalamnya. Jika sendirian ia bukanlah pemimpin walaupun ia memiliki banyak keilmuan dan kemampuan. Sehingga konsep kepemimpinan ini amatlah penting bagi seorang santri untuk dapat menyalurkan keilmuannya dengan kepemimpinan dan kekuasaan.

5.       Cerdas dan terampil
Kunci kelima dalam membuka pintu keberhasilan sang santri adalah kecerdasan yang meliputi tiga aspek, yakni kecerdasan spiritual, emosional dan intelektual. Ketiga hal tersebut merupakan kekuatan dahsyat yang harus dimiliki seorang santri atau pelajar. Tidak hanya spiritual yang mantap, namun emosional dan intelektual juga harus selalu terasah. Sehingga secara moralitas akan selalu terjaga, dalam pergaulan akan selalu terawasi, dalam pemikiran dan wawasan akan yang terus berkembang, dan segala urusannya akan selalu tertata rapi. Sesulit apapun masalah yang kerap kali muncul dalam hidupnya, ia hadapi dengan sabar dan penuh ketegaran. Karena ia yakin bahwa segala masalah dan musibah adalah ujian dari-Nya, dan pasti akan ada solusi dan hikmah dibalik itu semua.

Setelah fajar tiba, maka kegelapan akan terusir dengan sendirinya. Artinya seorang santri yang sudah menyalakan pelita kehidupannya di dalam pesantren, yakni mengkaji berbagai keilmuan dan pengetahuan dari kitab-kitab klasik maupun modern selama bertahun-tahun, mengisi hari-harinya untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT, mengamalkan segala sunah-sunah rasul-Nya, dan terus menggali potensi diri serta mengembangkan bakat yang dimiliki. Dengan demikian, maka segala kebodohan, kemalasan, dan kedangkalan berfikir akan hilang dengan sendirinya sehingga menjadi pribadi yang cerdas. Selain kecerdasan, santri juga meski terampil dalam menata masa depan hidupnya dengan berbagai pengalaman terbaik ketika berada di pesantren. Terampil dalam mengelola waktu, memanfaatkan kesempatan yang ada, mengatur kegiatan-kegiatan, dan lain sebagainya. Sehingga tidak ada waktu untuk berleha-leha apalagi bermalas-malasan. Dengan begitu, ia akan telatih untuk menjadi pribadi yang kreatif, inovatif, dan dinamis.

Sabtu, 07 September 2013

Hari Kedua Masuk di Semester Tiga

Setelah dua bulan libur, yakni bulan Juli dan Agustus dalam rangka libur semester dua dan libur lebaran digabung menjadi satu, nah kini di bulan september kembali aktif lagi perkuliahan. Namun tak terasa, seiring dengan berjalannya waktu aku sudah menginjak semester tiga di program pascasarjana IAIN “SMH” Banten. Judul tulisan ini harusnya hari pertama masuk di semester tiga, tapi karena aku tidak masuk di hari pertama karena ada pekerjaan  yang tidak bisa ditinggal akhirnya dengan berat hati meninggalkan dua mata kuliah itu. Tak mengapa lah, di hari pertama kan biasanya sosialisasi silabus dan pembagian tugas makalah atau bisa jadi hanya perkenalan, jadi belum efektif belajar! Hehe (menghibur diri).

Hari kedua ini tepatnya pada hari sabtu, 7 September 2013. Pada hari itu, semua dosen pada tiga mata kuliah bisa masuk di dalam kelas walaupun hanya menyampaikan silabus perkuliahan pada semester ini. Ada juga satu mata kuliah yang sekaligus dua dosen yang masuk, yakni Dr. Muhajir, MA., dan Dr. Wawan Mulyawan, M.Pd. keduanya adalah team teaching mata kuliah materi ajar dan pengembangan kurikulum PAI. Tanpa menunggu lama, akhirnya pak Wawan membuka perkuliahan dengan salam. Namun saat permulaan kata-kata yang disampaikan, raut mukanya terlihat sangat serius dan kaku, hingga kami dari peserta kuliah pun merasa ngeri dan takut.

Beliau sedikit memberikan kritik terhadap pemerintah dengan pernyataan yang menggetarkan suasana saat itu, yang terkait pelaksanaan pendidikan di Banten ini, dan sedikit menyampaikan prolog tentang implementasi kurikulum di sekolah-sekolah. Setelah satu menit berlalu, suasana menjadi berubah 90 derajat dari ketegangan yang mencekam menjadi humor dan menyenangkan. Satu persatu di antara kami tertawa terbahak-bahak saat beliau menyampaikan satu pernyataan yang diikuti dengan kalimat yang lucu-lucu. Haha! Ya, begitulah karakternya sebagai seorang penceramah kondang yang bisa membuat suasana berubah-ubah. Akhirnya suasana perkuliahanpun menjadi nyaman dan asik hingga diantara kami pun tak canggung untuk bertanya dan berdiskusi dengannya.

Setelah selesai satu mata kuliah, maka berganti mata kuliah kedua pada pukul 10.00 WIB. Dosen mata kuliah ini adalah Dr. Supardi, Ph.D yang mengisi tentang Evaluasi Pendidikan. Beliau membuka perkuliahan dengan menjelaskan silabus pada perkuliahan ini, sekaligus membagikan judul materi kepada mahasiswa untuk dibuat makalah sebagai bahan diskusi. Evaluasi dalam pendidikan sangatlah penting dalam menunjang peningkatan mutu dan kualitas. Saat ini kita dituntut untuk menjadi bangsa yang maju dengan pendidikan yang maju seiring dengan perkembangan zaman yang sarat dengan persaingan global. Namun disisi lain, kita harus mempertahankan ciri khas pendidikan bangsa Indonesia yang berkarakter Islami. Evaluasi pendidikan ini sangatlah luas cakupannya, bukan hanya guru yang dievaluasi, namun kurikulum, lembaga pendidikan, sarana prasarana, dan lain sebagainya pun adalah penting untuk dievaluasi. Semoga kita termasuk orang-orang yang pandai mengevaluasi segala sesuatu yang berkaitan dengan sistem pendidikan.

Usai mata kuliah kedua ini adalah shalat, istirahat dan makan yang sudah disiapkan oleh staff. Jadi ga usah beli ke luar deh, tinggal menyantap bersama teman-teman yang lain dan waktupun tidak terbuang banyak karena masih berada di lingkungan kelas. Ikhtisar awam saya mengatakan bahwa perkuliahan di pascasarjana PAI harus melakukan kajian-kajian yang mendalam terhadap permasalahan-permasalahan pendidikan Islam dalam berbagai aspeknya. Kita tahu bahwa pendidikan Islam sudah lahir sebelum kemerdekaan bangsa Indonesia, semestinya pendidikan Islam lebih maju dibandingkan dengan umum.