Jumat, 03 Mei 2013

Segudang Cinta Untuk HIMAWAR


Telah tergerak jiwa ini untuk mempersembahkan sebuah cinta untuk menggapai segala cita-cita dalam narasi perjuangan bersama HIMAWAR (Himpunan Mahasiswa Waringinkurung). Ada angin, ada hujan, bahkan ada terik panas yang membakar kulit selalu menjadi iklim perjuangan ini. Dari situlah pintu-pintu pengorbanan akan terbuka hingga mengantarkan jiwa dan raga untuk terus belajar pada kehidupan yang penuh dengan tantangan dan rintangan. Organisasi kemahasiswaan yang berada di Waringinkurung ini merupakan institusi kebanggaan mahasiswa Waringinkurung, sebagai wadah penghimpun dari mozaik-mozaik para pejuang intelektual muda yang berserakan. Bersatu padu, seiya dan sekata dalam satu barisan yang kokoh untuk menggagas sebuah perubahan dan pembaharuan yang signifikan untuk dirinya beserta masyarakat secara umum.

Terpaan angin kencang tak menggetarkan hati untuk jatuh dan turun dari pohon yang bersar itu, justru ketika ada angin sepoi-sepoi terkadang membuat kita lalai dalam kenyamanan yang menyebabkan mudah untuk terjatuh. Semakin besar pohon, maka semakin besar pula angin yang berhembus menerpanya. Begitulah alam mengajarkan kepada kita tentang satu hukum kehidupan yang memiliki arti bahwa seorang yang ingin menjadi besar, maka harus siap menghadapi segala terpaan problematika kehidupan yang berhembus menyapanya. Besarnya badai di laut bebas bukan penghalang bagi sang pelaut sejati untuk berhenti melanjutkan perjuangannya, melainkan terus memperkuat diri dan meyakinkan hati untuk mampu menghadapi segala rintangan yang menghadang. Hujan dan panas adalah dua sisi cuaca yang saling bertentangan, ketika cuaca panas maka biasanya hujan tak berani untuk turun. Namun jika cuaca mendung maka akan berpotensi besar untuk  turunnya hujan. Namun, bagi para pejuang sejati tak pernah layu meski panas menyongsongnya, dan ia tak kenal umes kala hujan mengguyurnya.

Cerita metaforis di atas merupakan gambaran akan kisah perjuangan nyata para pejuang generasa pertama kepengurusan HIMAWAR meski badai ujian acapkali datang menyapa tak membuatnya surut untuk terus maju ke depan. Tak begitu banyak memang agenda yang telah ditunaikannya, hanya saja merupakan langkah-langkah awal dalam  upaya menjadikannya sebagai proses pembelajaran untuk mewujudkan pribadi pemimpin bangsa  yang memiliki dedikasi tinggi dan mulia. Tak peduli hujan lebat yang membasahi bumi, tak menganggap besar badai angin menerpanya, juga tak pernah berteduh dari keadaan cuaca panas sekalipun. Demikianlah kekuatan cinta yang telah terpatri dalam diri untuk memacu sang penggiat perjuangan untuk merajut persatuan dan pembaharuan. Gudang cinta, menjadi stok modal dalam menghembuskan nafas perjuangan bersama HIMAWAR yang takkan pernah habis hingga takdir memisahkannya.

Beginilah seharusnya, cinta...

Tidak ada komentar: