Pada kesempatan ini
saya akan menyampaikan materi tentang teknik evaluasi non tes. Teknik adalah cara
atau metode. Sedangkan evaluasi artinya penilaian terhadap tingkat keberhasilan
siswa mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam sebuah program.[1] Tehnik evaluasi non tes berarti melaksanakan penilain dengan
tidak mengunakan tes. Menurut Dr. Suharsimi Arikunto yang dikutip
Mustaqim dalam buku Psikologi Pendidikan mengatakan bahwa ada tiga
istilah yang sering muncul dan hampir sama dalam pemakaian sehari-hari ialah
pengukuran, penilian dan evaluasi. Pertama, mengukur adalah
membandingkan sesuatu dengan satu ukuran. Pengukuran bersifat kuantitatif. Kedua,
menilai adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran
baik-buruk. Penilaian bersifat kuantitatif. Dan ketiga mengadakan
evaluasi meliputi kedua langkah di atas yakni mengukur dan menilai.[2]
Penilaian terhadap
proses pengajaran dilakukan oleh guru sebagai bagian integral dari pengajaran
itu sendiri. Artinya, penilaian harus tidak terpisahkan dalam penyusunan dan
pelaksanaan pengajaran.[3] Jadi
teknik evaluasi dalam pembelajaran merupakan serangkaian kegiatan untuk menilai
atau mengevaluasi proses pembelajaran secara menyeluruh yang meliputi sikap dan
tingkah lagi siswa atas apa yang telah direncanakan untuk mencapai sebuah
keberhasilan. Hasil pembelajaran, bisa terlihat dalam kategori sukses tidaknya yaitu
melalui hasil evaluasi, sehingga menjadi barometer untuk meningkatkan kualitas
dan mutu pendidikan.
Dalam hal apapun,
evaluasi menjadi hal yang penting dalam upaya menemukan makna. Misalkan dalam
bidang ekonomi, politik, pemerintahan dan sebagainya. Begitu juga dalam dunia
pendidikan, evaluasi menjadi hal yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang
lainnya. Tanpa menggunakan evaluasi, seorang guru tidak dapat melihat sejauh
mana pencapaian tujuan pembelajarannya, seberapa tinggi tingkat penguasaan
materi ketika mengajar, metode yang digunakan, dan skill yang dimiliki untuk
mendiagnosa kelemahan dan kelebihan siswanya. Sehingga dapat mempermudah dalam
meningkatkan mutu pendidikan maupun mutu pembelajaran.
Menurut Fion Lim CB.,
konsep mutu dalam bidang pendidikan berbeda dengan industri. Perbedaannya terletak
pada unsur manusiawi yang diproses sebagai hasil. Oleh karena itu, akhir
penilaian mutu yaitu pada mutu lulusan. Mutu lulusan sangat beragam dan
kompleks antara satu dengan lainnya dalam kelompok lulusan yang sama. Penilaian
sederhana yaitu jika lulusan dapat diterima bekerja sesuai bidang keilmuannya
dan/atau diterima di perguruan tinggi terkemuka bagi yang melanjutkan studi,
maka lembaga pendidikan tersebut dinilai sangat bermutu.[4]
Dalam pembelajaran di
kelas terdapat beberapa komponen yang meliputi perencanaan, proses, observasi
dan evaluasi. Dalam penerapannya digunakan skala waktu yang telah ditentukan.
Satu sama lain saling berkaitan dan menentukan hasil pembelajaran di dalam
kelas. Jika masih ada kekurangan, maka kegiatan tersebut dapat diulangi kembali
hingga terdapat peningkatan sesuai dengan barometer yang telah ditentukan.
Ketika kita hendak
melakukan evaluasi, maka dibutuhkan teknik sebagai cara untuk mengevaluasi.
Sehingga hal ini disebut dengan teknik evaluasi. Teknik evaluasi memiliki dua
cara, yaitu teknik evaluasi tes dan teknik evaluasi non tes. Keduanya memiliki
proses dan tata cara yang berbeda-beda
satu sama lain untuk mencapai tujuan dan barometer pencapaian dalam
pembelajaran. Dengan teknik evaluasi inilah kita dapat mengetahui hasil dari
pembelajaran yang telah dilakukan. Dengan demikian, ikhtisar awam saya mengatakan bahwa evaluasi non tes dalam pendidikan sangatlah penting di samping tes, dalam upaya peningkatan mutu dan hasil pembelajaran yang dilakukan dengan observasi, kuesioner, wawancara, dan lain-lainnya.
[1] Muhibbin Syah,
Psikologi Belajar, (Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 2001), h. 175
[2] Mustaqim, Psikologi
Pendidikan, (Jakarta : Pustaka Pelajar, 2008), h. 161
[3] Ahmad Rohani, Pengelolaan
Pengajaran, (Jakarta : Rineka Cipta, 2004), h. 168
[4] Deden
Makbullah, Manajemen Mutu Pendidikan Islam, (Jakarta : Raja Grafindo
Persada, 2011), h. 36-37
Tidak ada komentar:
Posting Komentar